Archive for the ‘PRAKTIKUM’ Category


KARTU PEMBORAN TANAH

 

No. Pemboran             :

Tanggal                       :

Surveyor                      :

Lokasi                         :

Bentuk Wilayah          :

Satuan Fisiografi         :

Penggunaan Lahan      :

Kedalaman Efektif     :

Lereng/Relief              :

Bahan Induk               :

Drainase                      :

URAIAN PENAMPANG
TANAH

Simbol Horizon atau Lapisan
Kedalaman
Warna
Tekstur
Tingkat Pelapukan
Motling

Jumlah

Ukuran

Warna

Vegetasi

Catatan : 

  

KARTU PENGAMATAN PROFIL 

No. profil                    :

Tanggal                       :

Surveyor                      :

Lokasi                         :

Bentuk Wilayah          :

Satuan Fisiografi         :

Penggunaan Lahan      :

Kedalaman Efektif     :

Lereng/Relief              :

Bahan Induk               :

Drainase                      : 

Horizon atau Lapisan

Kedalaman

Uraian Penampang

     

 

 

 

     

 

 

 

     

 

 

 

     

 

 

 

     

 

 

 

     

 

 

 

 Catatan :

Advertisements

LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH

 “PENGENALAN PROFIL TANAH

 

 

OLEH :

 

NAMA                                        :

NO. BP                                        :

PROGRAM STUDI                  :

KELOMPOK                             :

ANGGOTA KELOMPOK       :

                 1 ……………………..

                 2 ……………………..

                 3 ……………………..      

                 4 ……………………..

                 5 ……………………..

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG 2013

 

 

l. PENDAHULUAN

  

  • A.      Latar Belakang

 

Tanah yang digunakan dalam praktikum adalah bagian dari permukaan bumi yang mengandung dan menopang kehidupan atau mampu sebagai media tumbuh tanaman .Batas atas tanah adalah udara atau air yang dangkal.  Batas bawah tanah sulit ditentukan  atau sampai batuan di bawahnya.Tanah berbentuk lapisan-lapisan diatas batuan terkonsolidasi sebagai akibat interaksi  dari bahan induk, iklim, makhluk hidup, topografi, dan pada periode waktu tertentu.Walaupun batas bawah dari tanah tidak bias didefinisikan, tetapi batas bawah tersxebut dapat ditandai dengan batas aktivitas biologi seperti batas perakaran, dan kehidupan mikroba tanah.  Jika aktivitas biologi lebih dari 200 cm, maka secara konvensi batas terbawah tanah adalah 200 cm ( 2 meter ).

 B.       Tujuan

    Tujuan dari praktikum  pengenalan profil tanah  yaitu :
  1. Dapat mengtetahui warna, struktur dan tekstur tanah
  2. Dapat menentukan lapisan-lapisan tanah
  3. Dapat mengetahui apa sebenarnya yang di maksud profil tanah secara nyata.

 

ll. TINJAUAN PUSTAKA

 Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi tempat tumbuh berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi ( senyawa porganik dan anorganik sederhana dan unsure-unsur esensial seperti N, P,K,Ca, Mg, S, CU, Zn, Fe, Mn, B, Cl dan lain-lain ), dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota ( organisme ) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif ( pemacu tumbuh, proteksi ) bagi  tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktifitas tanah untuk mengehasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industry perkebunan, maupun kehutanan ( Kemas A.H. 2007 ).

Profil tanah  merupakan suatu irisdan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang, dan lebar serta kedalam tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian.  Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam  ( natural forces ) Terhadap proses pembentukan mineral, serta pembentukan dan pelapukan bahan-bahan koloid ( Hakim,dkk. 1982 ).

Hasil pelapukan batuan-batuan yang bercampur dengan sisa batuan dari organism yang hidup diatasnya.  Selain itu, terdapat pula udara dan air di dalam tanah.  Air dalam tanah berasal dari air hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ketempat lain, di samping pencampuran bahan organic didalam proses pembentukan tanah, terbentuk pula lapisan-lapisan  tanah, ( Hardjowigeno.1985 ).

Pengenalan profil tanah secara lengkap meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah.  Pengenalan ini penting dalam hal mempelajari pembentukan dan klasifikasi tanah dengan pertumbuhan tanaman serta kemungkinan pengolahan tanah yang lebih tepat.  Adapun faktor-faktor pembentuk tanah, maka potensi untuk membentuk berbagai jenis tanah yang berbeda amat besar, ( Foth. 1999 ).

Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang dan lebar serta kedalam tertentu sesuai  denagb keadaan tanah dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam ( natural force ), ( Hakim. 1982 ).

Dalam rangka penelitian tanah, kadang-kadang diperlukan deskripsi ( penguatan ) profil tanah.  Dari pengamatan sifat-sifat tanah di lapangan serta di sokong oleh analisis contoh tanah di laboratorium yang di ambil dari tiap horizon, di dalam profil,  maka dapat ditentukan jenis tanahnya.  Tiap jenis tanah dan tipe tanah memiliki ciri yang khas di pandang dari tiap horizon di dalam  profil atau dari sifat-sifat fisik dan kimianya.  Profil tanah ialah penampang tegak/vertikal tanah di mulai dari permukaan tanah sampai lapisan induk bawah tanah.  Solum tanah adalah penampang tanah di mulai dari horizon A hingga horizon B.  Terdapat horizon-horizon pada tanah-tanah yang memiliki perkembangan genetis menyugestikanbahwa beberapa proses tertentu, umumnya terdapat dalam perkembangan pembentukan profil tanah, ( Gobenhog.1994 ).

Pembentukan lapisan atau perkembangan horizon dapat membangun tubuh alam yang di sebut tanah.  Tiap tanah di cirikan oleh susunan horizon tertentu.  Secara umum dapat di sebutkan bahwa setiap profil tanah terdiri atas dua atau lebih horizon utama.  Tiap horizon dapat dibedakan berdasarkan warna, tekstur, struktur dan sifat morfologis lainnya, ( Pairunan.1985 ).

Faktor-faktor pembentukan tanah adalah tidak tergantung ( bebas ), namun perlu di lihat situasinya.  Oleh karena itu dari seluruh faktor pada bentang lahan yang efektif sehingga hanya satu faktor peubah yang tampak.  Hal ini menjadikan sekuen-sekuen tanah dapat dikatakn hanya di rajai oleh faktor tunggal sehingga dapat ditemui tanah-tanah climosekuen, biosekuen, toposekuen,litosekuen, dan kronosekuen, ( Jenny.1941 ).

 

lll. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Pengamatan

Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan di peroleh data dalam table sebagai berikut :

Table Pengamatan Profil Tanah

lapisan

Simbol lapisan

Kedalaman ( cm )

1

A

0-22

2

BT

22-32

3

BW

32-60

4

BC

60-120

B.         Pembahasan

Tanah adalah lapisan nisbi tipis pada permukaan kulit bumi.  Sedangkan profil tanah didefinisikan sebagai irisan vertikal tanah dari lapisan atas hingga ke bahan induk tanah.  Profil dari tanah mineral  yang  telah berkembang lanjut biasanya memiliki horizon-horizon sebagai berikut ; O-A-E-B-C-R.

  •  Horizon O

Horizon O merupakan horizon yang terdiri dari bahan serasah atau sisa-sisa tanaman ( Oi ) dan bahan organik tanah hasil dekomposisi serasah ( Oa ).

  • Horizon A

Horizon A adalah horizon mineral berbahan organik tanah ( BOT ) tinggi sehingga berwarna agak gelap.

  • Horizon E

Horizon E adalah bahan horizon mineral yang telah tereloviasi ( tercuci ) sehingga kadar BOT, liat siikat, Fe dan Al rendah tetapi kadar pasir dan debu kuarsa ( seskuoksida ) dan mineral resisten lainnya tinggi serta berwarna terang.

  •  Horizon B

Horizon B adalah horizon eluviasi yaitu horizon akumulasi bahan eluvial dari horizon di atasnya.

  • Horizon C

Horizon C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi perubahan secara kimiawi.

  •  Horizon R

Horizon R adalah bahan induk tanah.

Dan tiap horizon pun dapat dibedakan berdasarkan warna, tekstur, struktur dan sifat morfologis lainnya.  Sebelumnya kita harus mengetahui apa itu lapisan tanah.  Lapisan tanah adalah formasi yang dibentuk oleh berbagai lapisan dalam, yang secara spesifik dapat dibedakan secara geologi, kimiawi, dan biologi, termasuk proses pembentukannya. Horizon adalah lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi dan berbeda dengan lapisan yang berdekatan.  Biasanya setiap horizon dilambangkan dengan huruf-huruf dan setiap horizon mempunyai cirri-ciri dan kekhasannya yang membedakan dengan horizon lain.

Berdasarkan dari hasil atau data pengamatan, terlihat bahwa setiap tanah mempunyai horizon-horizon yang berbeda.  Pada lapisan 1 pada profil dalam mempunyai kedalaman 0-22 cm, dan warna cokelat kehitaman, warna gelap tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh kandungan bahan organic yang tinggi yang terdekomposisi karena didalamnya bahan organic terjadi peristiwa immobilisasi, dimana ion Ee, al dan Mn berpengaruh besar dala perombakan bahan organic sehingga ion –ion tersebut mudah difiksasi oleh ion P.  penyebab lainnya adalah adanya perbedaan nyata dari sifat tetraktif ( aksi pembiasan cahaya ) kompojen padatan tanah dan udara.

Lapisan 2 atau lapisan yang dilihat berdasarkan struktur yaitu lapisan yang di beri symbol BT, dengan kedalaman 22-32 cm dan memiliki warna cokelat yang sedkit gelap.  Lapisan BT  atau lapisan utamanya B atau suatu horizon peralihan antara horizon B dan A1 atau antara horizon B dengan A2, yang watak horizon ini di rajai oleh watak atau sifat horizon B2 di bawahnya. Lapisan 3 dengan symbol BW yang merupaka horizon-horizon pelikan, terbentuk atauberdekatan dengan permukaan tanah sebagai tempat pelonggokan bahan organic terhumufiksasi, yang terkait erat dengan pelikan.

Lapisan 4 yaitu dengan symbol BC atau biasa di sebut sebagai lapisan transisi.  Dapat merupakan peralihan antara horizon B dan C, dimana watak penciri horizon B2 diatasnya terlihat jelas tetapi berasosiasi dengan ciri watak horizon B2.  Pada lapisan ke empat ini terletak diantara 60-120 cm, dan mempunyai warna yang lebih terang daripada ketiga lapisan di atasnya. Pada penentuan lapisan tanah atau horizon mengalami beberapa kendala, yaitu dari lahan yang lembab karena basah dengan air hujan sehingga kesulitan dalam menentukan atau melihat sruktur tanah.  Namun sebelumnya pun lahan untuk pengamatan profil tanah yang seharusnya berada pada kedalaman sekitar 180-200cm atau 2m, lahan tergenang air sehingga kedalaman hanya berada pada kisaran 120cm.

Dari lahan yang lembab, ini mempersulit pengamatan pada praktikum kali ini.  Walau ada beberapa kendala pengamatan profil tanah, praktikum atau pengamatan tetap berjalan.  Pisau digunakan untuk menyegarkan tanah agar mempermudah praktikan mengetahui warna ataupun struktur tanah.  Serta ketika menentukan warna tanah seharusnya menggunakan kertas munsell soil colour chart agar mempermudah kita menentukan warna tanah tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah yaitu, bahan induk organism, topografi, iklim, dan waktu.  Adanya beberapa tingkatan atau variasi faktor-faktor pembentuk tanah maka untuk menentukan berbagai jenis tanah yang berbeda adalah amat besar ( foth, H.D. 1999 ).

  • Bahan induk

Keadaan alamin bahan induk akan mempunyain pengaruh terputus pada sifat-sifat tanah muda, mereka dapat memakai satu pengaruh yang mendalam dalam perkembangan tanah termasuk tekstur, komposisi mineral dan tingkat stratifikasi. Pembentukan tanah dapat di mulai segera setelah penimbunan abu vulkanik tetapi harus menunggu penghancuran batu an keras secara fisik, dimana granit dibuka.  Penghancuran batuan dapat membatasi lajudan kedalaman perkembangan tanah, dimana laju penghancuran melebihi laju pemindahan bahan oleh erosi.

  • Iklim

Pengaruh iklim yang penting mempengaruhi pembentukan tanah adalah presipitasi dan temperature.  Iklim juga mempengaruhi pembantukan tanah secara tidak langsung yang menentukan vegetasi alami.  Tidaklah terlalu mengejutkan bahwa terdapat beberapa penyebaran iklim, vegetasi  dan tanah yang pararel di permukaan bumi.  Setiap kenaikan 10°c akan menaikkan laju reaksi kimia dua sampai tiga kali.  Meningkatnya pelapukan dan kandungan liat terjadi dengan meningkatnya rata-rata temperature tanah.  Rupanya hanya tanah-tanah yang sangat muda mempunyai tingkatan pengaruh iklim yang konstan selama genesa tanah.

  • Organisme

Tanaman mengabsobsi  unsure hara dari tanah dan mengangkut nutrient ke tajuk tanaman, bila tajuk mati dan jatuh kepermukaan tanah perombakan bahan organic akan melepaskan unsure hara untuk kesuburan dirinya sendiri. Profil tanah rumput mengandung lebih banyak bahan organic terdistribusi lebih uniform di dalam tanah daripada tanah hutan.  Tanah dengan vegetasi hutan kira-kira separuh dari kadungan bahan organic dan terdistribusi tidak merata dengan tingkat perkembangan profil tanah lebih sempurna.  Horizon-horizon pada solum lebih asam dan persentase jenuh basa yang rendah dan lebih banyak liat yang akan dipindahkan dari horizon A ke horizon B.

  • Topografi

Topografi mengubah perkembangan profil tanah dalam tiga cara, yaitu :

  1. Mempengaruhi jumlah presipitasi yang di absorpsi dan di tahan dalam tanah, sehingga mempengarui kelembaban
  2. Mempengaruhi kecepatan perpindahan tanah oleh erosi
  3. Mengarahkan gerakan bahan-bahan dalam suspense atau larutan dari daerah yang satu ke daerah yang lain.
  • Waktu

Tanah sebagai hasil evolusi berubah secara tetap seperti perubahan bentuk bui.  Mereka mempunyai siklus hidup dengan keadaan yang sama dimana bentuk muka bumi lambat laun menembus suatu siklus.  Siklus hidup tanah teristimewa termasuk bahan induk, tanah muda, tanah matang dan tanah tua.  Pada tanah-tanah muda, kandungan bahan organic meningkat dengan cepat sebab laju pertambahan melebihi laju dekomposisi.

Kematangan dicirikan oleh kandungan bahan organic yang konstan sebagai penambah di imbangi oleh yang hilanh.  Unsure yang tua dicirikan oleh kandungan bahan organic yang rendah dan menurun yang menunjukkan  bahwa laju pertambahan susut dari tanah menjadi lebih mudah dilapukkan.

 

lV.  KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dan pembahasn yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Warna pada lapisan 1 cokelat kehitaman, lapisan 2 cokelat agak gelap, lapisan 3 cokelat, lapisan 4 cokelat yang lebih terang dari ketiga lapisan diatasnya dan memiliki struktur yang remah dan granular.
  2. Lapisan tanah yang terdapat pada lahan praktikum adalah lapisan A, BT,BW, dan BC
  3. Profil tanah yaitu suatu irisan melintang pada tubuh tanah yang memperlihatkan lapisan-lapisan tanah.
  4. Kedalam efektif untuk profil tanah dapat ditentukan dengan melihat batasan perakaran tumbuh.

  

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Hanafiah, Kemas. 2007. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Buckman, O, Hanry, Brady, C, Nyle. 1982. Ilmu Tanah. Jakarta: Barat Karya Aksara.

Foth,HD dan L.N.Turk . 1999. Fundamental of soils science. New York:fifth Ed. John. Waley & soil.

Gobahong, prof. Dr. 1994 Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.

Hakim, N. M.Y, dkk.1982. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.

Harjowigeno, S. 1985. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademik Persindo

Kartasapoetra, A. G, Ir. Dkk. 1985. Teknologi Konservasi Tanah Dan Air. Jakarta: Rineka Cipta

Pairunan. A. K. dkk. 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Ujung Pandang: BKPT INTIM

Purwowidodo. 1991. Ganesa Tanah. Jakrta: Rajawali.

Tim Penyusun. 2010. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.



a. Alat-alat dan bahan :

Bahan yang digunakan terdiri dari larutan kalium dikromat 1 N, larutan barium klorida 0,5 %, asam sulfat pekat, sakarosa baku, serta tanah 0,5 gr lolos ayakan 5 mm.  Alat yang digunakan terdiri dari neraca analitik, pipet takar, pipet gondok, gelas ukur 100 ml dan 25 ml, tabung reaksi, Erlenmeyer dan spektrometer.

b. Prosedur kerja :

Sakarosa baku sebanyak 29,68 g dilarutkan dengan air suling dalam labu ukur 250 ml.  Kemudian dipipet berturut-turut 5, 10, 15, 20 dan 25 ml, selanjutnya dimasukkan kedalam 5 buah labu ukur 100 ml dan diencerkan hingga 100 dengan air suling.  Pipet masing-masing larutan yang telah diencerkan tersebut sebanyak 2 ml dan masukan ke dalam 5 buah Erlenmeyer.  Erlenmeyer itu berturut-turut mengandung 5, 10, 15, 20 dan 25 mg C.  Selanjutnya timbang 0,25 g contoh tanah dan masukkan kedalam Erlenmeyer, lalu tambahkan 10 ml kalium dikromat (K2Cr2O7) 1 N dan 20 ml asam sulfat pekat (H­2SO4), digoyang hingga tercampur dan diamkan selama 30 menit.  Setelah 30 menit tambahkan 100 ml Barium klorida (BaCl2) 5% sehingga asam sulfat mengendap menjadi Barium sulfat (BaSO4), diamkan selama satu malam hingga jernih.  Hal ini juga dilakukan tehadap larutan sukrosa baku, dan diamkan selama satu malam.  Setelah itu pindahkan larutan kedalam tabung reaksi dan masukkan kedalam kuvet dan lakukan pengukuran dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 660 µm, kemudian catat transmitan dan konversikan kembali ke absorban.   Lalu buat kurva baku berdasarkan kepekatan C sakarosa baku dari 0 – 25 mg.  Tentukan kadar C-organik melalui kurva.

c. Perhitungan :

 v   % C-Organik                     = mg C Kurva/mg Sampel * 100 % * kka

v   % Bahan Organik            = 1,72 * % C- organik


Ada banyak cara atau metoda yang dapat digunakan untuk menentukan BV (Berat Volume/Bulk density), TRP (Total Ruang Pori) dan KA (KAdar Air) suatu tanah, salah satunya dengan menggunakan metode ring. Metode ini saya rasakan cukup mudah dan simple untuk dilakukan, terlebih jika sample tanah yang digunakan banyak. Cara menentukan BV, TRP dan KA suatu tanah dengan menggunakan metode ring yaitu sebagai berikut :

a.      Alat – alat dan bahan :

Contoh tanah utuh dalam ring sampel, Oven, Timbangan dan Eksikator.

b.      Prosedur kerja :

Timbang contoh tanah utuh (yang dari lapangan) + ring = (BBR), diletakkan dalam cawan poselen atau cawan alumunium atau kaleng. Panaskan dalam oven dengan suhu 1050 C sampai beratnya konstan atau selama kurang lebih dari 48 jam. Timbang berat tanah kering + ring = (BKR), Buang tanah dan bersihkan ring, lalu timbang berat ring (=BR), dan tentukan volume ring (πr2t).  Volume ring = volume tanah (ukur diameter ring bagian dalam). Berat Basah Tanah (BB) = BBR – BR . Berat Kering Tanah (BK) = BKR – BR

c.    Perhitungan :

  • BV               =  BK/Volume Tanah  gcm-3
  • % TRP       = 1 –(BV/BJ)  x 100 %   ……..bila kandungan BO ≤ 1 %
  • % TRP       = 1 –(BV/(BJ – (0,02 x % BO))) x 100 % ……..bila kandungan BO ≥1 %
  • % KA         = (BB-BK)/BK x 100 %

Penetapan tekstur tanah dapat di lakukan baik di lapangan maupun di Laboratorium. Cara penetapan tekstur tanah di lapangan telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya, sedangkan untuk analisis tekstur tanah di Laboratorium akan dijelaskan kali ini dengan menggunakan metoda pipet dan ayakan.

Prinsip kerja dari metoda ini, yaitu meliputi :

1. Tahapan Degradasi (pemisahan butiran tanah dari agen pengikatnya).

2. Tahapan Dispersi (pembebasan butiran tanah menjadi butiran-butiran tunggal).

3. Tahapan Fraksionasi (pemisahan butiran tanah berdasarkan ukuran).

Adapun cara menetapkan tekstur tanah di laboratorium adalah sebagai berikut :

a. Alat dan Bahan

Alat yang diguanakan terdiri dari tabung silinder 1000 ml, pipet gondok,  ayakan 50 µm, gelas ukur 200 ml, cawan aluminium, eksikator, oven, neraca analitik, tungku pemanas (hotplate), gelas piala 1000 ml, dan pipet tetes. Bahan yang dibutuhkan adalah  tanah lolos ayakan 2 mm sebanyak 10 gr, H2O2 6 % dan 30 %, HCl 0,4 N, Asam asetat 99 %, Na- Hexamethafosfat 0,0006 N  , dan aquadest.

b. Prosedur Kerja :

            Sampel tanah yang telah diayak 2 mm ditimbang 10 g dan dimasukkan ke dalam gelas piala 1000 mL, kemudian ditambahkan 30 mL H2O2 10 % dan 6 tetes Asam asetat.  Gelas tersebut ditutup dengan gelas arloji dan biarkan semalam.  Selanjutnya ditambahkan lagi 10 mL H2O2 30 % dan dipanaskan di atas penangas air sampai buihnya habis.  Larutan HCl 0,4 N ditambahkan sebanyak 45 mL, dikocok dan dibiarkan semalam, airnya dibuang dan ditambahkan lagi aquadest, diulangi sampai tiga kali.  Selanjutnya ditambahkan 20 mL Na-hexametaphosphate 10 %, kemudian dikocok dengan pengocok horizontal selama 30 menit. Setelah itu disaring basah dengan ayakan 50 mikron dan cairannya ditampung dengan gelas ukur 1000 mL, maka diprolehlah pasir, pasir tersebut dimasukkan ke dalam cawan aluminium yang telah diketahui beratnya lalu diovenkan pada suhu 105° C selama 24 jam sampai kering kemudian dipindahkan ke dalam eksikator selama 15 menit dan ditimbang, maka diperoleh berat pasir kering (a gram).

Cairan dalam gelas ukur saringan tadi dicukupkan menjadi 1000 mL, kemudian dikocok sampai homogen dan dipipet sebanyak 20 mL pada kedalaman 5 cm lalu dimasukkan ke dalam cawan aluminium kemudian dipanaskan di atas tungku pemanas sampai airnya habis.  Selanjutnya dimasukkan ke dalam oven pada suhu 105° C selama 24 jam, lalu ditimbang maka diperoleh berat debu dan liat (b gram).

Larutan dalam gelas tadi dikocok sampai homogen dan dibiarkan selama 3 jam 36 menit dengan suhu 27° C (diletakkan pada bak sedimen).  Selanjutnya dipipet 20 mL sedalam 10 cm lalu dimasukkan ke dalam cawan dan dikeringkan di atas tungku pemanas sampai airnya habis lalu diovenkan pada suhu 105° C selama 24 jam.  Setelah itu ditimbang berat keringnya, maka diperoleh berat liat (c gram).  Hitung berat debu sehingga diperoleh persentase pasir, debu, dan liat.

c. Perhitungan  :

Misalkan  berat pasir (a) , berat debu + liat (b) dan berat liatnya (c), maka :

  •    Berat debu            = (b – c) x 50               ………………….. d
  •    Berat liat               = c x 50                       ………………….. e
  •    Berat total (T)       = a + d + e
  •    %  P                       = a/T x 100 %
  •    %  D                      = d/T x 100 %
  •    %  L                      = e/T x 100 %

Dari hasil perhitungan persentase pasir, debu dan liat, lalu diproyeksikan pada segitiga tekstur menurut USDA, maka didapat kelas tekstur tanah tersebut.

        


  1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanah merupakan suatu komponen penting dalam modal dasar pertanian. Sifat, ciri dan tingkat kesuburan (produktivitas) nya, tanah sangat dipengaruhi oleh sifat kimia,fisika dan biologi tanah. Biologi tanah adalah ilmu yang mempelajari mahluk-mahluk hidup didalam tanah. Karena ada bagian-bagian hidup di dalam tanah, maka tanah itu disebut sebagai “Living System” contohnya akar tanaman dan organisme lainnya di dalam tanah.

Tanah yang mempunyai nilai produktivitas yang tinggi,tidak hanya terdiri dari bagian padat, cair dan udara saja, tetapi harus ada jasad hidup yang merupakan organisme hidup. Sebaliknya aktivitas organism tanah dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :

a).Iklim à organisme tanah lebih banyak ditemui jumlah (populasi) nya dan keragamannya pada tanah didaerah yang mempunyai curah hujan dan temperatur yang tinggi dibandingkan di daerah yang mempunyai curah hujan dan temperatur rendah.

b).Tanah àTingkat kemasaman, kandungan hara dan umur tanah dapat mempengaruhi organisme dalam tanah. Bahteri lebih banyak ditemui pada daerah yang kemasaman sedang (normal) , sedangkan jamur/cendawan lebih banyak pada tanah yang kemasaman rendah (masam). Tanah-tanah yang diberi kapur dan pupuk, umumnya lebih banyak populasi organismenya. Pada tanah perawan, populasi dan keragaman organisme nya lebih banyak dibandingkan pada tanah-tanah tua.

c).Vegetasi àpada lokasi tanah-tanah hutan ditemui organism yang lebih banyak dan lebih beragam dibandingkan pada lokasi padang rumput.

Bahan bacaan untuk mengetahui potensi organisme tanah dalam peningkatan produsi pertanian masih sangat diperlukan.

Pengertian biologi adalah ilmu pengetahuan tentang benda hidup. Benda hidup merupakan salah satu fenomena alam. Bisa dikatakan biologi merupakan ilmu yang mencakup dari botani, hewan, manusia dan alam sekitar.

Beberapa contoh ilmu pengetahuan lain yang termasuk ilmu pengetahuan alam adalah : geologi (ilmu yang mempelajari struktur tanah), mineralogy (ilmu yang mempelajari substansi kulit bumi), fisiologi (ilmu yang mempelajari sifat dan tanda tanah), dan meteorology (ilmu yang mempelajari iklim dan cuaca). Ilmu pengetahuan alam dibedakan atas ilmu pengetahuan fisika dan kimia. Ilmu pengetahuan fisika membicarakan tentang sifat dan khasiat benda, sedangkan ilmu kimia membicarakan tentang konstitusi atau susunan benda.(Yani,2011).

Secara ekologis tanah tersusun oleh tiga kelompok material, yaitu material hidup (faktor biotik) berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor abiotik berupa bahan organik, faktor abiotik berupa pasir (sand), debu, (silt), dan liat (clay). Umumnya sekitar 5% penyusun tanah berupa biomass (bioti dan abioti), berperan sangat penting karena mempengaruhi sifat kimia, fisika dan biologi tanah.

Tanah dihuni oleh bermacam-macam mikroorganisme. Jumlah tiap grup mikroorganisme sangat bervariasi, ada yang terdiri dari beberapa individu, akan tetapi ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram tanah. Mikroorganisme tanah itu sendirilah yang bertanggung jawab atas pelapukan bahan organik dan pendauran unsur hara. Dengan demikian mereka mempunyai pengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Anas 1989).

Selanjutnya Anas (1989), menyatakan bahwa jumlah total mikroorganisme yang terdapat didalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan tanah (fertility indeks), tanpa mempertimbangkan hal-hal lain. Tanah yang subur mengandung sejumlah mikroorganisme, populasi yang tinggi ini menggambarkan adanya suplai makanan atau energi yang cukup ditambah lagi dengan temperatur yang sesuai, ketersediaan air yang cukup, kondisi ekologi lain yang mendukung perkembangan mikroorganisme pada tanah tersebut.

Jumlah mikroorganisme sangat berguna dalam menentukan tempat organisme dalam hubungannya dengan sistem perakaran, sisa bahan organik dan kedalaman profil tanah. Data ini juga berguna dalam membandingkan keragaman iklim dan pengelolaan tanah terhadap aktifitas organisme didalam tanah (Anas 1989).

Fungi berperan dalam perubahan susunan tanah. Fungi tidak berklorofil sehingga mereka menggantungkan kebutuhan akan energi dan karbon dari bahan organik. Fungi dibedakan dalam tiga golongan yaitu ragi, kapang, dan jamur. Kapang dan jamur mempunyai arti penting bagi pertanian. Bila tidak karena fungi ini maka dekomposisi bahan organik dalam suasana masam tidak akan terjadi (Soepardi, 1983).

1.2 Tujuan

    Tujuan dari praktikum biologi tanah ini adalah agar mahasiswa mengetahui organisme tanah yang ada pada tempat berbeda, respirasi mikrooranisme, serta populasi mikroorganisme yang ada dalam tanah. Selain itu diharapkan setelah praktikum ini, mahasiswa mampu menetukan respirasi dan mampu menghitung populasi mikroorganism

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Peranan mikroorganisme tanah

2.1.1 Bakteri

Bakteri merupakan mikroorganisme bersel tunggal, umumnya tidak berkhlorofil, beberapa diantaranya fotosintetik, reproduksi aseksuilnya secara pembelahan transversal atau biner (sel memanjang lalu membelah). Sifat bakteri ada yang hidup bebas, parasit, saprofitik, atau sebagai patogen pada manusia, hewan, dan tumbuhan.

Habitat bakteri yaitu tersebar luas di alam (dalam tanah, atmosfir, lumpur, air, laut, sumber air panas, antartika), dalam tubuh manusia, hewan dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung keadaan dan tingkat kesuburan tanah (± 100.000/g tanah).

Ukuran bakteri tergantung spesies dan fase pertumbuhan, diukur dalam mikrometer (0,001mm). Garis tengah rata-rata kokus adalah 1 µm atau kurang, basil atau spiril 2 – 5 µm panjang dan 0,5 – 1 µm garis tengahnya. Jenis bakteri tertentu dapat membentuk tubuh istirahat yang disebut endospora. Endospora adalah tubuh kecil yang tahan lama (panas, zat kimia), terbentuk dalam sel dan mampu tumbuh menjadi organisme vegetatif yang baru jika lingkungan menguntungkan.

Bentuk bakteri : kokus (bulat), basil (batang), spiral (batang melengkung atau melingkar).

Jika keadaan baik, hampir semua bakteri mampu berkembang biak dengan amat cepat. Waktu yang diperlukan untuk membelah menjadi dua disebut waktu generasi (Ex. E.coli 20 menit, M. Tuberculosis 15-20 jam). Waktu generasi berbeda menurut jenis organisme, kadar nutrien dalam medium dan suhu inkubasi. Selain itu pH, oksigen bagi yang bersifat aerob juga berpengaruh.

2.1.2. Jamur

Jamur pada umumnya adalah jasad yang berbentuk benang, multiseluler, tidak berkhlorofil dan belum mempunyai diferensiasi dalam jaringan. Ada pula yang hanya terdiri dari satu sel. Diperkirakan >100.000 jenis fungi yang berbeda mengambil bagian dalam daur alam, untunglah hanya sedikit yang menyebabkan penyakit.

Peranan jamur dalam alam sangat besar, ada yang merugikan, berbahaya dan ada yang menguntungkan. Spesies jamur yang nonpatogen meliputi spesies yang melakukan perombakan bahan organik dalam tanah, perusak kayu dan bahan lain.

Habitat jamur, Penyebaran jamur di alam sangat luas. Jamur terdapat dalam tanah, buah-buahan, dalam air, bahan organik, bahan makanan, sebagai saprofit atau parasit pada tanaman, hewan dan manusia. Spora jamur beterbangan diudara dan spora tersebut akan berkecambah menjadi sel vegetatif jika jatuh di tempat yang memungkinkan untuk hidupnya.

Struktur jamur. Walaupun jamur dapat dilihat, namun masing-masing sel adalah mikroskopik. Jamur tersusun atas benang-benang sel yang disebut hifa. Jika jamur tumbuh, hifa saling membelit untuk membentuk massa benang yang disebut miselium yang cukup besar untuk dilihat dengan mata.

Ada dua tipe hyfa, yaitu a. Hifa fertil (hifa yang dapat membentuk sel reproduksi atau spora dan b. Hifa vegetatif (hifa yang berfungsi untuk menyerap makanan dari substrat. Hifa juga ada yang mempunyai dinding penyekat (septa) yang membagi masing-masing hifa menjadi banyak sel dengan nukleus masing-masing. Hifa yang tidak bersepta kelihatan seperti satu sel panjang yang mengandung banyak nukleus yang disebut hifa senosit. Ukuran sel yang menyusun hifa berbeda dari satu jamur dengan yang lain. Yang besar diameternya 10 – 20 µm (sel bakteri ±1 µm),panjang benang juga berbeda-beda.

Perkembang biakan jamur adalah dengan spora, cara bagaimana spora dibuat dapat bersifat vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Secara vegetatif dapat dilakukan dengan fragmentasi miselium, pembentukan tunas dan pembentukan spora aseksual (dihasilkan oleh satu sel tanpa fertilisasi) ex. Pycomycetes, Ascomycetes. Secara generatif, adalah dengan fusi 2 sel. Proses seksuil hanya terjadi antara hifa atau spora yang tipe kelaminnya berbeda. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap fungi adalah status bahan organik, pH, pupuk, kelengasan, aerasi, temperatur, letak dalam profil.

2.2 Pengamatan organisme tanah di hutan, lapangan, dan rumput

Padang rumput adalah salah satu jenis ekosistem yang memiliki stratifikasi yang sederhana yaitu hanya terdiri dari satu strata, tetapi walaupun demikian padang rumput ini memiliki keragaman spesies yang tinggi.

Pada padang rumput spesies yang paling banyak ditemui adalah jenis jotang (Spilanthes iabadicensis) dan rumput-rumputan yang salah satunya adalah famili Cyperaceae, sedangkan hewan yang paling banyak adalah semut dan pacat. Komponen-komponen yang terdapat pada ekosistem ini adalah produsen yang jenisnya dapat dilihat pada hasil, konsumen tingkat I yaitu kupu-kupu, capung, belalang ; konsumen tingkat II yaitu semut, pacat, keong ; konsumen tingkat tiga katak. Dari piramida jumlah dan food web, dapat dilihat secara langsung hubungan dari masing-masing individu dan bagaimana perpindahan energi yang terjadi.

Pada ekosistem ini jumlah yang paling banyak ditemui adalah jenis jotang (Spilanthes iabadicensis), hal ini karena karakteristik dari jotang itu sendiri memungkinkan untuk dapat bertahan hidup di daerah tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Maradjo (1987) bahwa jotang tumbuhnya di daerah yang banyak mengandung air, tumbuh di daerah dataran rendah sampai pegunungan pada ketinggian 1000 mdpl. Tumbuhan jotang berkambangbiak dengan biji, biji tumbuhan ini ringan sehingga dapat di bawa terbang oleh angin kemana-mana. Bila biji tersebut jatuh ke tanah maka tumbuhnya biji menjadi tumbuhan baru tinggal menunggu waktu saja. Biasanya tumbuhan ini menyukai tempat yang lembab, seperti pematang sawah. Di tempat inilah jotang tumbuh serta berkembang dengan cepat.

Pada kawasan pengamatan yang dilaksanakan memang benar bahwa tempat itu mengandung banyak air sehingga hal itu mendukung hidupnya tanaman jotang ini disitu serta hal lain yang mendukungnya adalah kelembaban dari kawasan itu yang juga agak lembab karena kandungan air yang agak banyak. Untuk hewan, pada ekosistem ini yang paling banyak adalah semut, sebagaimana yang telah diketahui bahwa semut itu dapat hidup dimana saja tanpa memandang tempat, seperti di hutan, rawa, pegunungan, hewan ini juga dapat ditemui, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa semut juga merupakan hewan yang mempunyai toleransi tinggi terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

Komponen-komponen ekosistem yang ada pada hutan ini adalah mulai dari tingkat produsen yaitu semua jenis tanaman heterotrof yang ada, tingkat konsumen I yaitu belalang, kupu-kupu, ulat dan capung. Konsumen II terdiri dari semut, nyamuk dan pacat.

Dari tabel hasil yang sudah ada dapat dilihat jenis spesies yang ada pada ekosistem ini, dimana jenis tumbuhannya sangat beranekaragam dari tingkat stratum yaitu mulai dari strata A sampai dengan strata tumbuhan bawah tanah seperti perdu atau semak. Dari sini dapat dilihat bahwa persaingan yang terjadi pada ekosistem ini sangat tinggi terutama dalam memperoleh sinar matahari, karena jumlah produsen pada ekosistem ini sangat banyak dan masing-masing pasti membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.

Menurut Michael (1995) bahwa bilamana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (persaingan interspesifik) atau antara organisme yang sama (persaingan intraspesifik).

Persaingan dapat terjadi dalam makanan atau ruang. Persaingan interspesifik yang dapat terjadi pada ekosistem ini dapat dilihat dari food web yang terjadi yaitu antara nyamuk dengan pacat, dimana mereka sama-sama bersaing dalam memakan dengan kata lain menghisap darah manusia. Sedangkan untuk yang intraspesifik yaitu antara produsen itu sendiri dalam memperoleh sinar matahari, antara hewan yang satu dengan hewan yang lain dalam satu jenis seperti belalang dengan belalang dalam memperoleh tanaman muda yang dapat untuk dimakan. Hewan yang paling banyak ditemui pada tempat ini adalah semut, hal ini dikarenakan sifat dari semut itu sendiri yang dapat hidup dimana saja.

2.3 Rerpirasi mikroorganisme tanah

    Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne (Anas 1989).

Penetapan respirasi tanah didasarkan pada penetapan :

1. Jumlah CO2 yang dihasilkan, dan

2. Jumlah O2 yang digunakan oleh mikroba tanah

Pengukuran respirasi ini berkorelasi baik dengan peubah kesuburan tanah yang berkaitar dengan. aktifitas mikroba seperti:

1. Kandungan bahan organik

2. Transformasi N atau P,

3. Hasil antara,

4. pH,

5. Rata-rata jumlah mikroorganisme.

Aktivitas mikroorganisme dapat diketahui dengan mengukur respirasi dan biomassa karbon mikroorganisme (C-mik) tanah (Annisa, 2008).

Respirasi dapat digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan ketersediaan O2 di udara, yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob. Respirasi aerob merupakan proses respirasi yang membutuhkan O2, sebaliknya respirasi anaerob merupakan proses repirasi yang berlangsung tanpa membutuhkan O2.

Pengukuran respirasi ini berkorelasi baik dengan peubah kesuburan tanah yang berkaitar dengan. aktifitas mikroba seperti: kandungan bahan organic,transformasi N atau P, hasil antara, pH, dan rata-rata jumlah mikroorganisme (Andre, 2010).

Respirasi tanah merupakan suatu proses yang terjadi karena adanya kehidupan mikrobia yang melakukan aktifitas hidup dan berkembang biak dalam suatu masa tanah. Mikrobia dalam setiap aktifitasnya membutuhkan O2 atau mengeluarkan CO2 yang dijadikan dasar untuk pengukuran respirasi tanah. Laju respirasi maksimum terjadi setelah beberapa hari atau beberapa minggu populasi maksimum mikrobia dalam tanah, karena banyaknya populasi mikrobia mempengaruhi keluaran CO2 atau jumlah O2 yang dibutuhkan mikrobia. Oleh karena itu, pengukuran respirasi tanah lebih mencerminkan aktifitas metabolik mikrobia daripada jumlah, tipe, atau perkembangan mikrobia tanah.

Adapun cara penetapan tanah di laboratorium lebih disukai. Prosedur di laboratorium meliputi penetapan pemakaian O2 atau jumlah CO2 yang dihasilkan dari sejumlah contoh tanah yang diinkubasi dalam keadaan yang diatur di laboratorium. Dua macam inkubasi di laboratorium adalah : 1) Inkubasi dalam keadaan yang stabil (steady-stato), 2) Keadaan yang berfluktuasi Untuk keadaan yang stabil, kadar air, temperatur, kecepatan, aerasi, dan pengaturan ruangan harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Peningkatan respirasi terjadi bila ada pembasahan dan pengeringan, fluktuasi aerasi tanah selama inkubasi. Oleh karena itu, peningkatan respirasi dapat disebabkan oleh perubahan lingkungan yang luar biasa.

Hal ini bisa mencerminkan keadaan aktivitas mikroba dalam keadaan lapang, cara steady-stato telah digunakan untuk mempelajari dekomposisi bahan organik, dalam penelitian potensi aktivitas mikroba dalam tanah dan dalam perekembangan penelitian.(Iswandi, 1989).

Respirasi Tanah merupakan pencerminan populasi dan aktifitas mikroba tanah. Metode respirasi tanah masih sering digunakan karena cukup peka, konsisten, sederhana dan tidak memerlukan alat yang canggih dan mahal. Pengukuran respirasi tanah ditentukan berdasarkan keluaran CO2 atau jumlah O2 yang dibutuhkan oleh mikrobia. Laju respirasi maksimum biasanya terjadi setelah beberapa hari atau beberapa hari atau beberapa minggu populasi maksimum mikrobia. Oleh karena itu pengukuran respirasi tanah lebih mencerminkan aktifitas metabolik mikrobia daripada jumlah, tipe atau perkembangan mikrobia tanah. Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne (Iswandi, 1989).

2.4 Populasi mikroorganisme tanah

Populasi mikroorganisme didalam tanah bersama dengan berbagai bentuk binatang dan berbagai jenis tanaman tingkat lebih tinggi membentuk suatu system kehidupan yang tidak terpiasahkan dari bahan mineral dan bahan organic didalam tanah. Populasi mikroorganisme didalam tanah selain bahan mineral dan bahan organic dipengaruhi oleh keadaan iklim daerah, tanaman yang tumbuh, reaksi yang berlansung didalam tanah dan kelembaban tanah (Sutedjo dkk, 1996.

III. BAHAN DAN METODA

3.1 Waktu dan Tempat

    Pratikum Biologi tanah telah dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 2011 sampai tanggal 7 Juni 2011. Pengambilan sampel tanah lapangan di lahan sekitar Fakultas Pertanian dan dilanjutkan analisis sampel tanah di Laboratorium Kimia Tanah Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang Sumatra Barat.

3.2 Tujuan dan Metoda

3.2.1 Pengambilan Sampel Di Lapangan

    Tujuan dari pengambilan sampel di lapangan adalah untuk mengamati makroorganisme dan mikroorganisme tanah. Sedangkan metoda yang dilakukan adalah pengamatan makroorganisme tanah secara lansung.

3.2.2 Respirasi Mikroorganisme Tanah

    Tujuan dari pelaksanaan pratikum ini adalah untuk melihat tingkat aktivitas mikroba tanah dan untuk mengetahui perbedaan respirasi mikroorganisme antara mikroorganisme dibawah lahan terbuka, rerumputan dan lahan hutan.

    Sedangkan metoda yang digunakan dalam penangkapan CO2 melalui ruang kedap udara adalah inkubasi dan titrasi.

3.2.3 Populasi Mikroorganisme tanah

    Tujuan dari pelaksanaan pratikum ini adalah untuk dapat menghitung jumlah populasi mikroorganisme tanah dari sampel tanah yang di ambil dari lahan tertentu. Sedangkan metoda yang digunakan adalah metoda tidak lansung (pengenceran hitungan cawan).

3.3 Bahan dan Alat

3.3.1 Pengambilan Sampel Di Lapangan

    Bahan yang digunakan adalah lahan, alkohol. Alat-alat yang telah digunakan pada pelaksanaan pratikum pengambilan sampel tanah dilapangan adalah cangkul, kantong plastik, karet, kertas label

3.3.2 Pengukuran Respirasi Mikroorganisme Tanah

    Bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah tanah segar, KOH 0,5 M, BaCl2 1 M, HCl, aquades dan indicator PP. Sedangkan alat-alat yang telah digunakan diantaranya toples, botol film, timbangan analitik, kertas label, erlemeyer, gelas ukur, pipet tetes dan alat titrasi.

3.3.3 Penghitungan Populasi Mikroorganisme tanah

    Pratikum belum sempat dilakukan.

3.4 Cara Kerja

3.4.1 Pengamatan tanah di Lapangan

    Pertama kita menentukan tempat pengamatan pada lahan rerumputan, lahan hutan maupun lahan terbuka. Buat pancang pada masing-masing lahan 1m2. Bersihkan vegetasi dengan cangkul lalu amati makroorganisme tanah yang ada. Jika ada ambil lalu masukkan dalam plastic dan tambahkan sedikit alcohol. Selanjutnya ambil sampel tanah pada kedalaman ± 30 cm untuk mengamati mikroorganisme tanah di Laboratorium.

3.4.2 Respirasi Mikroorganisme Tanah

    Sampel tanah dari lahan hutan ditimbang sebanyak 90 gram. Sediakan dua buah toples, 4 buah botol film yang mana 2 buah botol film diisi 10 ml KOH dan 2 buah botol film diisii 10 ml aquades. Selanjutnya masukkan sampel tanah yang telah ditimbang ke dalam salah satu toples dan toples yang kedua dibiarkan kosong. Pada masing-masing toples dimasukkan 1 botol film berisi KOH dan 1 botol film berisi aquades. Botol film diletakkan miring dalam toples dengan cara meletakkannya pada sudut toples. Setelah itu inkubasi selama 3 minggu.

    Setelah 3 minggu ambil botol film yang berisi KOH dari masing-masing toples(botol film yang berisi KOH dari toples yang ada tanahnya dan botol film yang berisi KOH tanpa ada tanah), KOH dari masing-masing toples masukkan kedalam tabung erlemeyer yang telah diberi label “tanpa tanah dan pakai tanah”. Setiap tabung erlemeyer yang telah berisi KOH tambahkan 1 M BaCl2 5 ml dan 4 tetes indicator PP, sehingga larutan bewarna merah muda/pink. Selanjutnya titrasi dengan HCl 0,5 N sehingga warna merah muda berubah menjadi putih. Catat HCl yang terpakai saat mentitrasi . Setelah itu masukkan data kedalam rumus berikut :

Mg C     = ( B – C ) . N. Ec

 Mg CO2 = ( B – V ) . N . E

Keterangan:

B = Value (ml) asam untuk mentitrasi basa pengumpul pada control

V = Volume (ml) asam untuk mentitrasi basa pada perlakuan

N = normalitas asam

E = bobot ekuivalen bila dalam C, E= 6 dan bila dalam CO2, E=22

3.3.3 Populasi Mikroorganisme tanah     (Pratikum belum sempat dilakukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1     Pengamatan dilapangan

    Organisme yang terdapat ditanah hutan lebih banyak dibandingkan dengan organisme di rerumputan dan tanah terbuka.

4.1.2 Respirasi mikroorganisme

    Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berkut :

Sampel tanah

ML HCL Terpakai

Perlakuan ( tanah )

5

Kontrol ( tanpa tanah )

4,85

Nilai C dan CO2

no

mg C

mg CO2

1

0,43

1,65

4.2 Pembahasan

4.2.1 Di lapangan

    Berdasrkan pengamatan dilapanagan dapat dikatakan bahwa organisme di Hutan sangat banyak ditemuka, karena ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan

4.2.2 Respirasi mikroorganisme

    Berdasrkan tabel di atas, hasil pengukuran respirasi mikroorganisme dari sampel tanah hutan didapatkan nilai mg C adalah 0,43 dan nilai mg CO2 adalah 1,65. Dari hasil yang didapatkan pada analisis di Laboratorium bahwasannya, bejana yang berisi sampel tanah (perlakuan) memiliki ratio aktivitas dan respirasi mikroorganisme yang tinggi dibandingkan dengan bejana tanpa tanah. Hal ini dapat dinilai dari jumlah HCL yang terpakai. Semakin banyak HCL yang terpakai menendakan semakin tinggi aktivitas mikroorganisme dalam tanah tersebut.

    Respirasi dan aktivitasmikroorganisme sangat erat kaitannya dengan jumlah karbon dalam tanah. Dimana tingginya bahan organik     (karbon) akan dapat meningkatkan populasi mikroorganisme dan aktivitasnya, karena bahan organik digunakan oleh mikroorganisme tanah sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya. Hal tersebut sependapat dengan pernyataan Swedya (1996) bahwasannya ketersediaan bahan organik bahan oraganik dan humus didalam tanah menjadi sumber energi bagi perkembangan mikroorganisme. Bahan organik dan humus menyediakan unsur-unsur penting yang diperlukan oleh mikroorganisme tanah.

    Rendahnya nilai CO2 dibawah mengindikasikan jumlah populasi dan aktivitas mikroorganisme yang sedikit. Begitupun sebaliknya CO2 yang tinggi mengidikasikan bahwa tanah tersebut memiliki polpulasi mikroorganisme yang banyak. Menurut     Walksman dan Starley dalam dalam sutejo (1996), pada kondisi lembab dan temperatur yang baik 1 KG tanah dapat mengeluarkan atau membebaskan sekitar 1- 20 mg karbon sebagai CO2.

    Sampel dalam praktikum ini menggunakan sampel pada tanah hutan. Dimana tanah hutan memiliki jumlah mikroorganisme tergolong tinggi karena tanah didaerah hutan menyediakan kondisi yang baik untuk kehidupan mikroorganisme . menurut Alexander (1977    ), jumlah dan aktivitas mikroorganisme didalam tanah dipengaruhi oleh bahanorganik, kelembaban, aerase, dan sumber energi.

    Menurut Wahyuni (2003), biasanya konsentrasi CO2 dalam tanah dipengaruhi oleh tingginya mikroorganisme didalam tanah, produksi CO2 yang sangat berarti . aktivitas mikroorganisme tanah juga tinggi dan hal ini memebantu tanah untuk tetap subur. Sutejo (1996) juga menambahkan bahwa aktivitas miroorganisme yang tinggi akan menghasilkan produksi CO2 yang tinggi.

    Jumlah CO2 yang dihasilkan mikroorganisme tanah menurut Welksman dan Starley dan Sutejo (1996) dipengaruhi oleh kondisi lembab dan temperatur yang sesuai. Pada kondisi temperatur yang baik 1 kg tanah dapat mengeluarkan atau membebaskan 1 – 30 mg C sebagai CO2.

    Produksi CO2 dari lahan hutan tersebut bernilai rendah. Hal ini diduga disebabkan oleh kesalahan atau ketelitian dan menentukan titik akhir titrasi pada penentuan jumlah produksi CO2 sehingga berpengaruh pada hasil

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

    Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa pada tanah hutan merupakan tempat hidup yang cocok bagi organisme dan mikroorganisme tanah. Pada tanah hutan banyak terdapat makanan atau sumber energi yang sangat menunjang bagi pertumbuhan dan perkembangan biota. Tajuk tanaman yang menyebabkan suhu rendah pada sekitar tanaman dan kelembaban yang tinggi. Sehingga aktivitas dan populasi biota pada daerah hutan berkembang sangat pesat.

5.2 Saran

    Semoga hal-hal yang dipelajari pada praktikum ini dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat. Untuk penulis, asisten dan pembaca laporan ini semangat selalu ya dalam menjalani kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, M.1977.Introduction to Soil Mikrobiology.Academic press.New York.

Andre. 2010. http://boymarpaung. wordpress. com/ 2009/ 02/ 19/ sifat-biologi-tanah/ 19 Februari 2009

Annisa. 2008. http://www.lihatkita.co.cc/2010/01/filum-arthropoda.html.

Anonious, 2008. http://www.idonbiu.com/2009/05/laju-respirasi-ipengaruhi-oleh-beberapa.html. [Diakses pada 19 April 2010].

Barchia F, Ami N, Prawito P.2007. Bahan Organik dan Respirasi dibawah Beberapa Tegauan pada DAS Musi bagi Hulu     ( Jurnal     Auto Agrosia Edisi Khusus No. 2 halaman 172-175.

Emalinda, Oktanis. 1998.Reaksi-reaksi yang Berlangsung pada Permukaan Tanah.Bandung

Hairiah, K., Widianto., D. Suprayogo., R. H. Widodo., P. Purnomosidhi., S. Rahayu., M. V. Noordwijk. 1986. Ketebalan Serasah Sebagai Indikator Daerah Aliran Sungai (DAS) Sehat. Hanafiah, K. A., A. Napoleon dan N. Ghofar., 2005. Biologi Tanah. Ekologi dan Makrobiologi Tanah. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Rao, N.S.1994.mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman.Universitas Indonesia Press.Jakarta

Sutejo M.M.1996.Mikrobiologi Tanah.Rineka Cipta Jakarta

Soetrisno Toto.1988.Ekologi Pertanian.Amrico.Bandung.

Subahar dan Adianto. 2008. http://digilib.biologi.lipi.go.id/view.html.10/07/2008. 2010b.