Laporan Akhir Praktikum Biologi Tanah

Posted: February 28, 2012 in LAPORAN PRAKTIKUM, PRAKTIKUM
Tags: ,

  1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanah merupakan suatu komponen penting dalam modal dasar pertanian. Sifat, ciri dan tingkat kesuburan (produktivitas) nya, tanah sangat dipengaruhi oleh sifat kimia,fisika dan biologi tanah. Biologi tanah adalah ilmu yang mempelajari mahluk-mahluk hidup didalam tanah. Karena ada bagian-bagian hidup di dalam tanah, maka tanah itu disebut sebagai “Living System” contohnya akar tanaman dan organisme lainnya di dalam tanah.

Tanah yang mempunyai nilai produktivitas yang tinggi,tidak hanya terdiri dari bagian padat, cair dan udara saja, tetapi harus ada jasad hidup yang merupakan organisme hidup. Sebaliknya aktivitas organism tanah dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :

a).Iklim à organisme tanah lebih banyak ditemui jumlah (populasi) nya dan keragamannya pada tanah didaerah yang mempunyai curah hujan dan temperatur yang tinggi dibandingkan di daerah yang mempunyai curah hujan dan temperatur rendah.

b).Tanah àTingkat kemasaman, kandungan hara dan umur tanah dapat mempengaruhi organisme dalam tanah. Bahteri lebih banyak ditemui pada daerah yang kemasaman sedang (normal) , sedangkan jamur/cendawan lebih banyak pada tanah yang kemasaman rendah (masam). Tanah-tanah yang diberi kapur dan pupuk, umumnya lebih banyak populasi organismenya. Pada tanah perawan, populasi dan keragaman organisme nya lebih banyak dibandingkan pada tanah-tanah tua.

c).Vegetasi àpada lokasi tanah-tanah hutan ditemui organism yang lebih banyak dan lebih beragam dibandingkan pada lokasi padang rumput.

Bahan bacaan untuk mengetahui potensi organisme tanah dalam peningkatan produsi pertanian masih sangat diperlukan.

Pengertian biologi adalah ilmu pengetahuan tentang benda hidup. Benda hidup merupakan salah satu fenomena alam. Bisa dikatakan biologi merupakan ilmu yang mencakup dari botani, hewan, manusia dan alam sekitar.

Beberapa contoh ilmu pengetahuan lain yang termasuk ilmu pengetahuan alam adalah : geologi (ilmu yang mempelajari struktur tanah), mineralogy (ilmu yang mempelajari substansi kulit bumi), fisiologi (ilmu yang mempelajari sifat dan tanda tanah), dan meteorology (ilmu yang mempelajari iklim dan cuaca). Ilmu pengetahuan alam dibedakan atas ilmu pengetahuan fisika dan kimia. Ilmu pengetahuan fisika membicarakan tentang sifat dan khasiat benda, sedangkan ilmu kimia membicarakan tentang konstitusi atau susunan benda.(Yani,2011).

Secara ekologis tanah tersusun oleh tiga kelompok material, yaitu material hidup (faktor biotik) berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor abiotik berupa bahan organik, faktor abiotik berupa pasir (sand), debu, (silt), dan liat (clay). Umumnya sekitar 5% penyusun tanah berupa biomass (bioti dan abioti), berperan sangat penting karena mempengaruhi sifat kimia, fisika dan biologi tanah.

Tanah dihuni oleh bermacam-macam mikroorganisme. Jumlah tiap grup mikroorganisme sangat bervariasi, ada yang terdiri dari beberapa individu, akan tetapi ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram tanah. Mikroorganisme tanah itu sendirilah yang bertanggung jawab atas pelapukan bahan organik dan pendauran unsur hara. Dengan demikian mereka mempunyai pengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Anas 1989).

Selanjutnya Anas (1989), menyatakan bahwa jumlah total mikroorganisme yang terdapat didalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan tanah (fertility indeks), tanpa mempertimbangkan hal-hal lain. Tanah yang subur mengandung sejumlah mikroorganisme, populasi yang tinggi ini menggambarkan adanya suplai makanan atau energi yang cukup ditambah lagi dengan temperatur yang sesuai, ketersediaan air yang cukup, kondisi ekologi lain yang mendukung perkembangan mikroorganisme pada tanah tersebut.

Jumlah mikroorganisme sangat berguna dalam menentukan tempat organisme dalam hubungannya dengan sistem perakaran, sisa bahan organik dan kedalaman profil tanah. Data ini juga berguna dalam membandingkan keragaman iklim dan pengelolaan tanah terhadap aktifitas organisme didalam tanah (Anas 1989).

Fungi berperan dalam perubahan susunan tanah. Fungi tidak berklorofil sehingga mereka menggantungkan kebutuhan akan energi dan karbon dari bahan organik. Fungi dibedakan dalam tiga golongan yaitu ragi, kapang, dan jamur. Kapang dan jamur mempunyai arti penting bagi pertanian. Bila tidak karena fungi ini maka dekomposisi bahan organik dalam suasana masam tidak akan terjadi (Soepardi, 1983).

1.2 Tujuan

    Tujuan dari praktikum biologi tanah ini adalah agar mahasiswa mengetahui organisme tanah yang ada pada tempat berbeda, respirasi mikrooranisme, serta populasi mikroorganisme yang ada dalam tanah. Selain itu diharapkan setelah praktikum ini, mahasiswa mampu menetukan respirasi dan mampu menghitung populasi mikroorganism

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Peranan mikroorganisme tanah

2.1.1 Bakteri

Bakteri merupakan mikroorganisme bersel tunggal, umumnya tidak berkhlorofil, beberapa diantaranya fotosintetik, reproduksi aseksuilnya secara pembelahan transversal atau biner (sel memanjang lalu membelah). Sifat bakteri ada yang hidup bebas, parasit, saprofitik, atau sebagai patogen pada manusia, hewan, dan tumbuhan.

Habitat bakteri yaitu tersebar luas di alam (dalam tanah, atmosfir, lumpur, air, laut, sumber air panas, antartika), dalam tubuh manusia, hewan dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung keadaan dan tingkat kesuburan tanah (± 100.000/g tanah).

Ukuran bakteri tergantung spesies dan fase pertumbuhan, diukur dalam mikrometer (0,001mm). Garis tengah rata-rata kokus adalah 1 µm atau kurang, basil atau spiril 2 – 5 µm panjang dan 0,5 – 1 µm garis tengahnya. Jenis bakteri tertentu dapat membentuk tubuh istirahat yang disebut endospora. Endospora adalah tubuh kecil yang tahan lama (panas, zat kimia), terbentuk dalam sel dan mampu tumbuh menjadi organisme vegetatif yang baru jika lingkungan menguntungkan.

Bentuk bakteri : kokus (bulat), basil (batang), spiral (batang melengkung atau melingkar).

Jika keadaan baik, hampir semua bakteri mampu berkembang biak dengan amat cepat. Waktu yang diperlukan untuk membelah menjadi dua disebut waktu generasi (Ex. E.coli 20 menit, M. Tuberculosis 15-20 jam). Waktu generasi berbeda menurut jenis organisme, kadar nutrien dalam medium dan suhu inkubasi. Selain itu pH, oksigen bagi yang bersifat aerob juga berpengaruh.

2.1.2. Jamur

Jamur pada umumnya adalah jasad yang berbentuk benang, multiseluler, tidak berkhlorofil dan belum mempunyai diferensiasi dalam jaringan. Ada pula yang hanya terdiri dari satu sel. Diperkirakan >100.000 jenis fungi yang berbeda mengambil bagian dalam daur alam, untunglah hanya sedikit yang menyebabkan penyakit.

Peranan jamur dalam alam sangat besar, ada yang merugikan, berbahaya dan ada yang menguntungkan. Spesies jamur yang nonpatogen meliputi spesies yang melakukan perombakan bahan organik dalam tanah, perusak kayu dan bahan lain.

Habitat jamur, Penyebaran jamur di alam sangat luas. Jamur terdapat dalam tanah, buah-buahan, dalam air, bahan organik, bahan makanan, sebagai saprofit atau parasit pada tanaman, hewan dan manusia. Spora jamur beterbangan diudara dan spora tersebut akan berkecambah menjadi sel vegetatif jika jatuh di tempat yang memungkinkan untuk hidupnya.

Struktur jamur. Walaupun jamur dapat dilihat, namun masing-masing sel adalah mikroskopik. Jamur tersusun atas benang-benang sel yang disebut hifa. Jika jamur tumbuh, hifa saling membelit untuk membentuk massa benang yang disebut miselium yang cukup besar untuk dilihat dengan mata.

Ada dua tipe hyfa, yaitu a. Hifa fertil (hifa yang dapat membentuk sel reproduksi atau spora dan b. Hifa vegetatif (hifa yang berfungsi untuk menyerap makanan dari substrat. Hifa juga ada yang mempunyai dinding penyekat (septa) yang membagi masing-masing hifa menjadi banyak sel dengan nukleus masing-masing. Hifa yang tidak bersepta kelihatan seperti satu sel panjang yang mengandung banyak nukleus yang disebut hifa senosit. Ukuran sel yang menyusun hifa berbeda dari satu jamur dengan yang lain. Yang besar diameternya 10 – 20 µm (sel bakteri ±1 µm),panjang benang juga berbeda-beda.

Perkembang biakan jamur adalah dengan spora, cara bagaimana spora dibuat dapat bersifat vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Secara vegetatif dapat dilakukan dengan fragmentasi miselium, pembentukan tunas dan pembentukan spora aseksual (dihasilkan oleh satu sel tanpa fertilisasi) ex. Pycomycetes, Ascomycetes. Secara generatif, adalah dengan fusi 2 sel. Proses seksuil hanya terjadi antara hifa atau spora yang tipe kelaminnya berbeda. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap fungi adalah status bahan organik, pH, pupuk, kelengasan, aerasi, temperatur, letak dalam profil.

2.2 Pengamatan organisme tanah di hutan, lapangan, dan rumput

Padang rumput adalah salah satu jenis ekosistem yang memiliki stratifikasi yang sederhana yaitu hanya terdiri dari satu strata, tetapi walaupun demikian padang rumput ini memiliki keragaman spesies yang tinggi.

Pada padang rumput spesies yang paling banyak ditemui adalah jenis jotang (Spilanthes iabadicensis) dan rumput-rumputan yang salah satunya adalah famili Cyperaceae, sedangkan hewan yang paling banyak adalah semut dan pacat. Komponen-komponen yang terdapat pada ekosistem ini adalah produsen yang jenisnya dapat dilihat pada hasil, konsumen tingkat I yaitu kupu-kupu, capung, belalang ; konsumen tingkat II yaitu semut, pacat, keong ; konsumen tingkat tiga katak. Dari piramida jumlah dan food web, dapat dilihat secara langsung hubungan dari masing-masing individu dan bagaimana perpindahan energi yang terjadi.

Pada ekosistem ini jumlah yang paling banyak ditemui adalah jenis jotang (Spilanthes iabadicensis), hal ini karena karakteristik dari jotang itu sendiri memungkinkan untuk dapat bertahan hidup di daerah tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Maradjo (1987) bahwa jotang tumbuhnya di daerah yang banyak mengandung air, tumbuh di daerah dataran rendah sampai pegunungan pada ketinggian 1000 mdpl. Tumbuhan jotang berkambangbiak dengan biji, biji tumbuhan ini ringan sehingga dapat di bawa terbang oleh angin kemana-mana. Bila biji tersebut jatuh ke tanah maka tumbuhnya biji menjadi tumbuhan baru tinggal menunggu waktu saja. Biasanya tumbuhan ini menyukai tempat yang lembab, seperti pematang sawah. Di tempat inilah jotang tumbuh serta berkembang dengan cepat.

Pada kawasan pengamatan yang dilaksanakan memang benar bahwa tempat itu mengandung banyak air sehingga hal itu mendukung hidupnya tanaman jotang ini disitu serta hal lain yang mendukungnya adalah kelembaban dari kawasan itu yang juga agak lembab karena kandungan air yang agak banyak. Untuk hewan, pada ekosistem ini yang paling banyak adalah semut, sebagaimana yang telah diketahui bahwa semut itu dapat hidup dimana saja tanpa memandang tempat, seperti di hutan, rawa, pegunungan, hewan ini juga dapat ditemui, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa semut juga merupakan hewan yang mempunyai toleransi tinggi terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

Komponen-komponen ekosistem yang ada pada hutan ini adalah mulai dari tingkat produsen yaitu semua jenis tanaman heterotrof yang ada, tingkat konsumen I yaitu belalang, kupu-kupu, ulat dan capung. Konsumen II terdiri dari semut, nyamuk dan pacat.

Dari tabel hasil yang sudah ada dapat dilihat jenis spesies yang ada pada ekosistem ini, dimana jenis tumbuhannya sangat beranekaragam dari tingkat stratum yaitu mulai dari strata A sampai dengan strata tumbuhan bawah tanah seperti perdu atau semak. Dari sini dapat dilihat bahwa persaingan yang terjadi pada ekosistem ini sangat tinggi terutama dalam memperoleh sinar matahari, karena jumlah produsen pada ekosistem ini sangat banyak dan masing-masing pasti membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.

Menurut Michael (1995) bahwa bilamana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (persaingan interspesifik) atau antara organisme yang sama (persaingan intraspesifik).

Persaingan dapat terjadi dalam makanan atau ruang. Persaingan interspesifik yang dapat terjadi pada ekosistem ini dapat dilihat dari food web yang terjadi yaitu antara nyamuk dengan pacat, dimana mereka sama-sama bersaing dalam memakan dengan kata lain menghisap darah manusia. Sedangkan untuk yang intraspesifik yaitu antara produsen itu sendiri dalam memperoleh sinar matahari, antara hewan yang satu dengan hewan yang lain dalam satu jenis seperti belalang dengan belalang dalam memperoleh tanaman muda yang dapat untuk dimakan. Hewan yang paling banyak ditemui pada tempat ini adalah semut, hal ini dikarenakan sifat dari semut itu sendiri yang dapat hidup dimana saja.

2.3 Rerpirasi mikroorganisme tanah

    Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne (Anas 1989).

Penetapan respirasi tanah didasarkan pada penetapan :

1. Jumlah CO2 yang dihasilkan, dan

2. Jumlah O2 yang digunakan oleh mikroba tanah

Pengukuran respirasi ini berkorelasi baik dengan peubah kesuburan tanah yang berkaitar dengan. aktifitas mikroba seperti:

1. Kandungan bahan organik

2. Transformasi N atau P,

3. Hasil antara,

4. pH,

5. Rata-rata jumlah mikroorganisme.

Aktivitas mikroorganisme dapat diketahui dengan mengukur respirasi dan biomassa karbon mikroorganisme (C-mik) tanah (Annisa, 2008).

Respirasi dapat digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan ketersediaan O2 di udara, yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob. Respirasi aerob merupakan proses respirasi yang membutuhkan O2, sebaliknya respirasi anaerob merupakan proses repirasi yang berlangsung tanpa membutuhkan O2.

Pengukuran respirasi ini berkorelasi baik dengan peubah kesuburan tanah yang berkaitar dengan. aktifitas mikroba seperti: kandungan bahan organic,transformasi N atau P, hasil antara, pH, dan rata-rata jumlah mikroorganisme (Andre, 2010).

Respirasi tanah merupakan suatu proses yang terjadi karena adanya kehidupan mikrobia yang melakukan aktifitas hidup dan berkembang biak dalam suatu masa tanah. Mikrobia dalam setiap aktifitasnya membutuhkan O2 atau mengeluarkan CO2 yang dijadikan dasar untuk pengukuran respirasi tanah. Laju respirasi maksimum terjadi setelah beberapa hari atau beberapa minggu populasi maksimum mikrobia dalam tanah, karena banyaknya populasi mikrobia mempengaruhi keluaran CO2 atau jumlah O2 yang dibutuhkan mikrobia. Oleh karena itu, pengukuran respirasi tanah lebih mencerminkan aktifitas metabolik mikrobia daripada jumlah, tipe, atau perkembangan mikrobia tanah.

Adapun cara penetapan tanah di laboratorium lebih disukai. Prosedur di laboratorium meliputi penetapan pemakaian O2 atau jumlah CO2 yang dihasilkan dari sejumlah contoh tanah yang diinkubasi dalam keadaan yang diatur di laboratorium. Dua macam inkubasi di laboratorium adalah : 1) Inkubasi dalam keadaan yang stabil (steady-stato), 2) Keadaan yang berfluktuasi Untuk keadaan yang stabil, kadar air, temperatur, kecepatan, aerasi, dan pengaturan ruangan harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Peningkatan respirasi terjadi bila ada pembasahan dan pengeringan, fluktuasi aerasi tanah selama inkubasi. Oleh karena itu, peningkatan respirasi dapat disebabkan oleh perubahan lingkungan yang luar biasa.

Hal ini bisa mencerminkan keadaan aktivitas mikroba dalam keadaan lapang, cara steady-stato telah digunakan untuk mempelajari dekomposisi bahan organik, dalam penelitian potensi aktivitas mikroba dalam tanah dan dalam perekembangan penelitian.(Iswandi, 1989).

Respirasi Tanah merupakan pencerminan populasi dan aktifitas mikroba tanah. Metode respirasi tanah masih sering digunakan karena cukup peka, konsisten, sederhana dan tidak memerlukan alat yang canggih dan mahal. Pengukuran respirasi tanah ditentukan berdasarkan keluaran CO2 atau jumlah O2 yang dibutuhkan oleh mikrobia. Laju respirasi maksimum biasanya terjadi setelah beberapa hari atau beberapa hari atau beberapa minggu populasi maksimum mikrobia. Oleh karena itu pengukuran respirasi tanah lebih mencerminkan aktifitas metabolik mikrobia daripada jumlah, tipe atau perkembangan mikrobia tanah. Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne (Iswandi, 1989).

2.4 Populasi mikroorganisme tanah

Populasi mikroorganisme didalam tanah bersama dengan berbagai bentuk binatang dan berbagai jenis tanaman tingkat lebih tinggi membentuk suatu system kehidupan yang tidak terpiasahkan dari bahan mineral dan bahan organic didalam tanah. Populasi mikroorganisme didalam tanah selain bahan mineral dan bahan organic dipengaruhi oleh keadaan iklim daerah, tanaman yang tumbuh, reaksi yang berlansung didalam tanah dan kelembaban tanah (Sutedjo dkk, 1996.

III. BAHAN DAN METODA

3.1 Waktu dan Tempat

    Pratikum Biologi tanah telah dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 2011 sampai tanggal 7 Juni 2011. Pengambilan sampel tanah lapangan di lahan sekitar Fakultas Pertanian dan dilanjutkan analisis sampel tanah di Laboratorium Kimia Tanah Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang Sumatra Barat.

3.2 Tujuan dan Metoda

3.2.1 Pengambilan Sampel Di Lapangan

    Tujuan dari pengambilan sampel di lapangan adalah untuk mengamati makroorganisme dan mikroorganisme tanah. Sedangkan metoda yang dilakukan adalah pengamatan makroorganisme tanah secara lansung.

3.2.2 Respirasi Mikroorganisme Tanah

    Tujuan dari pelaksanaan pratikum ini adalah untuk melihat tingkat aktivitas mikroba tanah dan untuk mengetahui perbedaan respirasi mikroorganisme antara mikroorganisme dibawah lahan terbuka, rerumputan dan lahan hutan.

    Sedangkan metoda yang digunakan dalam penangkapan CO2 melalui ruang kedap udara adalah inkubasi dan titrasi.

3.2.3 Populasi Mikroorganisme tanah

    Tujuan dari pelaksanaan pratikum ini adalah untuk dapat menghitung jumlah populasi mikroorganisme tanah dari sampel tanah yang di ambil dari lahan tertentu. Sedangkan metoda yang digunakan adalah metoda tidak lansung (pengenceran hitungan cawan).

3.3 Bahan dan Alat

3.3.1 Pengambilan Sampel Di Lapangan

    Bahan yang digunakan adalah lahan, alkohol. Alat-alat yang telah digunakan pada pelaksanaan pratikum pengambilan sampel tanah dilapangan adalah cangkul, kantong plastik, karet, kertas label

3.3.2 Pengukuran Respirasi Mikroorganisme Tanah

    Bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah tanah segar, KOH 0,5 M, BaCl2 1 M, HCl, aquades dan indicator PP. Sedangkan alat-alat yang telah digunakan diantaranya toples, botol film, timbangan analitik, kertas label, erlemeyer, gelas ukur, pipet tetes dan alat titrasi.

3.3.3 Penghitungan Populasi Mikroorganisme tanah

    Pratikum belum sempat dilakukan.

3.4 Cara Kerja

3.4.1 Pengamatan tanah di Lapangan

    Pertama kita menentukan tempat pengamatan pada lahan rerumputan, lahan hutan maupun lahan terbuka. Buat pancang pada masing-masing lahan 1m2. Bersihkan vegetasi dengan cangkul lalu amati makroorganisme tanah yang ada. Jika ada ambil lalu masukkan dalam plastic dan tambahkan sedikit alcohol. Selanjutnya ambil sampel tanah pada kedalaman ± 30 cm untuk mengamati mikroorganisme tanah di Laboratorium.

3.4.2 Respirasi Mikroorganisme Tanah

    Sampel tanah dari lahan hutan ditimbang sebanyak 90 gram. Sediakan dua buah toples, 4 buah botol film yang mana 2 buah botol film diisi 10 ml KOH dan 2 buah botol film diisii 10 ml aquades. Selanjutnya masukkan sampel tanah yang telah ditimbang ke dalam salah satu toples dan toples yang kedua dibiarkan kosong. Pada masing-masing toples dimasukkan 1 botol film berisi KOH dan 1 botol film berisi aquades. Botol film diletakkan miring dalam toples dengan cara meletakkannya pada sudut toples. Setelah itu inkubasi selama 3 minggu.

    Setelah 3 minggu ambil botol film yang berisi KOH dari masing-masing toples(botol film yang berisi KOH dari toples yang ada tanahnya dan botol film yang berisi KOH tanpa ada tanah), KOH dari masing-masing toples masukkan kedalam tabung erlemeyer yang telah diberi label “tanpa tanah dan pakai tanah”. Setiap tabung erlemeyer yang telah berisi KOH tambahkan 1 M BaCl2 5 ml dan 4 tetes indicator PP, sehingga larutan bewarna merah muda/pink. Selanjutnya titrasi dengan HCl 0,5 N sehingga warna merah muda berubah menjadi putih. Catat HCl yang terpakai saat mentitrasi . Setelah itu masukkan data kedalam rumus berikut :

Mg C     = ( B – C ) . N. Ec

 Mg CO2 = ( B – V ) . N . E

Keterangan:

B = Value (ml) asam untuk mentitrasi basa pengumpul pada control

V = Volume (ml) asam untuk mentitrasi basa pada perlakuan

N = normalitas asam

E = bobot ekuivalen bila dalam C, E= 6 dan bila dalam CO2, E=22

3.3.3 Populasi Mikroorganisme tanah     (Pratikum belum sempat dilakukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1     Pengamatan dilapangan

    Organisme yang terdapat ditanah hutan lebih banyak dibandingkan dengan organisme di rerumputan dan tanah terbuka.

4.1.2 Respirasi mikroorganisme

    Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berkut :

Sampel tanah

ML HCL Terpakai

Perlakuan ( tanah )

5

Kontrol ( tanpa tanah )

4,85

Nilai C dan CO2

no

mg C

mg CO2

1

0,43

1,65

4.2 Pembahasan

4.2.1 Di lapangan

    Berdasrkan pengamatan dilapanagan dapat dikatakan bahwa organisme di Hutan sangat banyak ditemuka, karena ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan

4.2.2 Respirasi mikroorganisme

    Berdasrkan tabel di atas, hasil pengukuran respirasi mikroorganisme dari sampel tanah hutan didapatkan nilai mg C adalah 0,43 dan nilai mg CO2 adalah 1,65. Dari hasil yang didapatkan pada analisis di Laboratorium bahwasannya, bejana yang berisi sampel tanah (perlakuan) memiliki ratio aktivitas dan respirasi mikroorganisme yang tinggi dibandingkan dengan bejana tanpa tanah. Hal ini dapat dinilai dari jumlah HCL yang terpakai. Semakin banyak HCL yang terpakai menendakan semakin tinggi aktivitas mikroorganisme dalam tanah tersebut.

    Respirasi dan aktivitasmikroorganisme sangat erat kaitannya dengan jumlah karbon dalam tanah. Dimana tingginya bahan organik     (karbon) akan dapat meningkatkan populasi mikroorganisme dan aktivitasnya, karena bahan organik digunakan oleh mikroorganisme tanah sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya. Hal tersebut sependapat dengan pernyataan Swedya (1996) bahwasannya ketersediaan bahan organik bahan oraganik dan humus didalam tanah menjadi sumber energi bagi perkembangan mikroorganisme. Bahan organik dan humus menyediakan unsur-unsur penting yang diperlukan oleh mikroorganisme tanah.

    Rendahnya nilai CO2 dibawah mengindikasikan jumlah populasi dan aktivitas mikroorganisme yang sedikit. Begitupun sebaliknya CO2 yang tinggi mengidikasikan bahwa tanah tersebut memiliki polpulasi mikroorganisme yang banyak. Menurut     Walksman dan Starley dalam dalam sutejo (1996), pada kondisi lembab dan temperatur yang baik 1 KG tanah dapat mengeluarkan atau membebaskan sekitar 1- 20 mg karbon sebagai CO2.

    Sampel dalam praktikum ini menggunakan sampel pada tanah hutan. Dimana tanah hutan memiliki jumlah mikroorganisme tergolong tinggi karena tanah didaerah hutan menyediakan kondisi yang baik untuk kehidupan mikroorganisme . menurut Alexander (1977    ), jumlah dan aktivitas mikroorganisme didalam tanah dipengaruhi oleh bahanorganik, kelembaban, aerase, dan sumber energi.

    Menurut Wahyuni (2003), biasanya konsentrasi CO2 dalam tanah dipengaruhi oleh tingginya mikroorganisme didalam tanah, produksi CO2 yang sangat berarti . aktivitas mikroorganisme tanah juga tinggi dan hal ini memebantu tanah untuk tetap subur. Sutejo (1996) juga menambahkan bahwa aktivitas miroorganisme yang tinggi akan menghasilkan produksi CO2 yang tinggi.

    Jumlah CO2 yang dihasilkan mikroorganisme tanah menurut Welksman dan Starley dan Sutejo (1996) dipengaruhi oleh kondisi lembab dan temperatur yang sesuai. Pada kondisi temperatur yang baik 1 kg tanah dapat mengeluarkan atau membebaskan 1 – 30 mg C sebagai CO2.

    Produksi CO2 dari lahan hutan tersebut bernilai rendah. Hal ini diduga disebabkan oleh kesalahan atau ketelitian dan menentukan titik akhir titrasi pada penentuan jumlah produksi CO2 sehingga berpengaruh pada hasil

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

    Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa pada tanah hutan merupakan tempat hidup yang cocok bagi organisme dan mikroorganisme tanah. Pada tanah hutan banyak terdapat makanan atau sumber energi yang sangat menunjang bagi pertumbuhan dan perkembangan biota. Tajuk tanaman yang menyebabkan suhu rendah pada sekitar tanaman dan kelembaban yang tinggi. Sehingga aktivitas dan populasi biota pada daerah hutan berkembang sangat pesat.

5.2 Saran

    Semoga hal-hal yang dipelajari pada praktikum ini dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat. Untuk penulis, asisten dan pembaca laporan ini semangat selalu ya dalam menjalani kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, M.1977.Introduction to Soil Mikrobiology.Academic press.New York.

Andre. 2010. http://boymarpaung. wordpress. com/ 2009/ 02/ 19/ sifat-biologi-tanah/ 19 Februari 2009

Annisa. 2008. http://www.lihatkita.co.cc/2010/01/filum-arthropoda.html.

Anonious, 2008. http://www.idonbiu.com/2009/05/laju-respirasi-ipengaruhi-oleh-beberapa.html. [Diakses pada 19 April 2010].

Barchia F, Ami N, Prawito P.2007. Bahan Organik dan Respirasi dibawah Beberapa Tegauan pada DAS Musi bagi Hulu     ( Jurnal     Auto Agrosia Edisi Khusus No. 2 halaman 172-175.

Emalinda, Oktanis. 1998.Reaksi-reaksi yang Berlangsung pada Permukaan Tanah.Bandung

Hairiah, K., Widianto., D. Suprayogo., R. H. Widodo., P. Purnomosidhi., S. Rahayu., M. V. Noordwijk. 1986. Ketebalan Serasah Sebagai Indikator Daerah Aliran Sungai (DAS) Sehat. Hanafiah, K. A., A. Napoleon dan N. Ghofar., 2005. Biologi Tanah. Ekologi dan Makrobiologi Tanah. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Rao, N.S.1994.mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman.Universitas Indonesia Press.Jakarta

Sutejo M.M.1996.Mikrobiologi Tanah.Rineka Cipta Jakarta

Soetrisno Toto.1988.Ekologi Pertanian.Amrico.Bandung.

Subahar dan Adianto. 2008. http://digilib.biologi.lipi.go.id/view.html.10/07/2008. 2010b.


Kasih Comentnya Dong ...!!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s