Asas-Asas Pemetaan

Posted: October 18, 2012 in Uncategorized

Yang dimaksud dengan asas pemetaan disini adalah menyangkut prinsip-prinsip atau konsep dasar yang perlu diketahui tentang proses pengadaan satu peta.

Sesuai dengan definisi peta bahwa peta adalah gambaran permukaan bumi pada satu bidang datar dengan perbandingan (skala) tertentu, maka ada hal-hal prinsip yang mesti diketahui dalam proses pemindahan ukuran dan besaran bumi tsb. kepada satu bidang kertas sehingga menjadi sebuah peta.

Pada prinsipnya bahwa proses pemindahan bentuk dan ukuran permukaan bumi kepada sebuah kertas tidaklah sederhana.

Hal-hal yang menyangkut asas-asas pemetaan tersebut antara lain adalah :

    – Kondisi fisik bumi

– Model matematis bumi

– Bidang referensi

– Sistem proyeksi peta

– Sistem Koordinat peta

– Sistem Penyajian peta

– Fokus survey pemetaan

Kondisi Fisik Bumi

Jika kita perhatikan kondisi ril permukaan bumi, maka terlihat bahwa bentuk permukaan bumi tersebut tidaklah beraturan atau tidak rata dan tidak homogen.

Permukaan bumi terdiri dari lautan dan daratan, dimana lautan merupakan satu permukaan yang rata sedangkan daratan permukaannya tidak rata. Jadi secara keseluruhan bentuk bumi bukanlah merupakan bentuk matematis ( bidang datar, bola, ellipsoid).

Bentuk Pisik Bumi            Irisan Tegak Permukaan Bumi

Pada kondisi seperti ini sebetulnya posisi relatif satu titik terhadap titik lain tidak dapat dihitung, karena : rumus matematis apa yang digunakan jika model atau bidang matematis tidak ada.

Jadi, bagaimana menentukan bentuk dan ukuran bumi tsb. atau sebagian permukaan bumi ?

Sebagian permukaan bumi yang akan dijadikan peta itu sebetulnya terdiri dari titik-titik, garis-garis, dan areal-areal.

Model Matematis Bumi

Satu ciri model matematis adalah adanya keteraturan komponen-komponen sehingga dapat dibuat formulasinya. Sebagai contoh model matematis adalah seperti; bidang datar, lingkaran, bola, ellipsoid, dsb.

Posisi relatif satu titik dapat ditentukan dari titik-titik lain jika titik-titik tersebut terletak pada satu bidang matematis, dimana formulanya telah tertentu secara matematis.

Model matematis bumi adalah satu bidang matematis bumi yang merupakan pendekatan dari bentuk bumi sebenarnya. Hal ini mesti diadakan supaya semua titik-titik dipermukaan bumi dapat dihitung posisinya dengan satu formula tertentu.

Model matematis bumi yang mendekati bentuk dan ukuran bumi sebenarnya adalah Ellipsoid, yang disebut dengan Ellipsoid Referensi.

Pendekatan dari permukaan ellipsoid refrensi ini pada kondisi nyata adalah permukaan airlaut rata-rata yang disebut dengan geoid.

Berbagai ukuran ellipsoid referensi telah diteliti oleh banyak para ahli geodesi dunia, seperti ; Bessel, GRS, WGS , dlsb.

Dalam satu pemetaan asas pertama yang perlu diperhatikan adalah ellipsoid referensi apa yang digunakannya sebagai ukuran dari bumi tsb.

Jadi, Perbedaan ellipsoid referensi yang digunakan akan membedakan pula hasil peta yang dibuat .

Sebagai standar pemetaan di Indonesia, Ellipsoid Referensi yang digunakan adalah Ellipsoid WGS’84.

Bidang Referensi

Bidang referensi adalah bidang yang digunakan untuk memproyeksikan semua data ukuran pada permukaan bumi sehingga pada bidang ini dapat dihitung posisi semua titik-titik. Disamping itu pada penentuan hitungan tinggi, bidang referensi ini adalah tempat dimulainya hitungan tinggi. Dalam hal ini sebagai bidang referensi yang digunakan adalah permukaan air laut rata-rata ( Mean Sea Level). Secara teoritis, semua titik pada bidang ini tegak lurus terhadap garis gaya berat. Penentuan permukaan air laut rata-rata tersebut adalah melalui satu teknis pengukuran tertentu, yaitu proses pengukuran pasut (pasang surut).

Sistem Proyeksi Peta

Yang dimaksud dengan sistem proyeksi peta disini adalah proses dan aturan-aturan (matematis) yang digunakan dalam memindahkan data ukuran dari permukaan bumi sampai ke bidang datar, sehingga diperoleh peta yang tersaji dalam bidang datar tersebut.

Banyak sekali metoda sistem proyeksi peta yang digunakan didunia atau pada masing-masing negara. Di Indonesia sendiri terdapat sistem proyeksi peta yang berbeda-beda dari dulu sampai sekarang, seperti Sistem Lambert (Zaman Belanda), Transver Mercator 3 (TM 3), Universal Transver Mercator (UTM).

Namun sekarang di Indonesia sebagai standar digunakan sistem proyeksi UTM yang diprakarsai oleh Bakosurtanal.

Sebagai gambaran proses sistem proyeksi ini adalah sebagai berikut :

fisik Bumi

 Model Bumi

Silinder : Sistem Mercator

 

 Peta dengan system Koordinat

 Gambar : Proses Proyeksi Peta

Sistem Proyeksi UTM :

    – Bumi dibagi atas zone-zone ( 60 Zone)

    – Setiap Zone mempunyai ukuran 60

    – Setiap Zone mempunyai satu sistem koordinat

Sistem Koordinat Peta

Pada prinsipnya ada dua sistem koordinat peta yang biasa digunakan, yaitu :

    – Sistem Koordinat Geografis

    – Sistem Koordinat Kartesian

– Sistem koordinat Geografis :

Sistem Koordinat ini dinyatakan dengan Lintang dan Bujur dan satuannya adalah derjat. Sistem koordinat ini mengacu kepada sistem koordinat bola atau ellipsoid atau d.p.l bahwa titik-titik permukaan bumi diletakkan pada permukaan bola atau ellipsoid. Sistem koordinat ini digunakan umumnya pada peta-peta skala kecil atau menggambarkan satu permukaan bumi yang relatif luas.

– Sistem Koordinat Kartesian ;

Sistem koordinat ini dinyatakan dengan sistem salib sumbu X dan Y, jadi posisi setiap titik dinyatakan dengan koordinat (X, Y) dan satuannya adalah meter. Sistem koordinat kartesian terdiri sistem koordinat tiga dimensi (3D) dan sistem koordinat dua dimensi (2D).

Sistem koordinat kartesian yang sering digunakan untuk peta adalah sistem koordinat 2 D, dimana sistem koordinat dinyatakan dalam sumbu X dan Y (X,Y).

-Fokus Survey dan Pemetaan

Fokus dari Survey/ Pemetaan pada prinsipnya adalah penentuan posisi/ letak satu titik relatih dari titik lain. Dari titik-titik akan membentuk garis, dan dari garis-garis akan terjadi area atau objek satu unsur permukaan bumi. Kemudian objek/ unsur-unsur permukaan bumi tersebut dapat digambarkan menjadi sebuah peta (pemetaan).

Ada dua jenis titik dalam survey/ pemetaan, yaitu :

    – Titik Kerangka Dasar (Titik Kontrol/ BM)

    – Titik Detail/ Situasi.

Perlakuan dua jenis titik tersebut dalam survey dan pemetaan adalah berbeda, baik dari segi metoda pengukurannya maupun metoda hitungannya..

Prinsip utama dalam melakukan pemetaan (asas pemetaan) adalah bagaimana membentuk kerangka dasar pemetaan yang terjamin ketelitiannya.

Ketelitian satu peta (betul atau tidaknya satu peta) sangat tergantung dari ketelitian kerangka dasarnya.

Sumber : Pelatihan Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS)

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kota Solok– FT Unand, Tahun 2005

Kasih Comentnya Dong ...!!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s