Upaya Perbaikan Stabilitas Agregat Tanah Melalui Peningkatan Karbon Organik Pada LAhan Marginal Di Daerah Tropis Super Basah Sumatera Barat

Posted: October 17, 2012 in JURNAL PENELITIAN

 Oleh :  Yulnafatmawita, Amrizal Saidi, and Gusnidar (Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

 Abstrak

 Penelitian untuk perbaikan stabilitas aggregat tanah Ultisols dalam usaha menciptakan pertanian yang berkesinambungan dan berwawasan lingkungan dilakukan dengan pemberian bahan organik (BO) segar ke dalam tanah.  Tiga jenis pupuk hijau sebagi sumber BO yang digunakan yaitu Titonia diversifolia, Chromolaena odorata, dan Gliricidia sepium pada percobaan tahun I (2008).  Berdasarkan hasil tahun I, hanya 2 jenis pupuk hijau (Tithonia dan Gliricidia) yang  digunakan pada tahun ke dua (2009) ini. Percobaan lapangan di samping dilakukan di Ultisol Limau Manis juga dilakukan pada 3 daerah lainnya di  Sumbar yang sudah disurvai tahun 2008.  Sampel tanah diambil setelah panen tanaman untuk dianalisis kandungan BO, stabilitas aggregat, dan beberapa sifat fisika tanah lainnya.  Di samping itu, jumlah tanah tererosi juga diukur sebagai indikator stabilitas aggregat tanahnya.  Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan BO, stabilitas aggregat, serta beberapa sifat fisika tanah dan produksi tanaman meningkat dengan pemberian pupuk hijau dibanding tanah awalnya.  Peningkatan sifat fisika tanah ini menurun dengan waktu dari MT I sampai MT III.  Kecendrungan penurunan juga terlihat pada produksi cabe, tetapi produksi jagung cendrung meningkat.  Jumlah tanah tererosi dari plot yang diolah secara konvensional <2 t/ha/th, sedangkan dari plot yang diolah secara konservasi (no-till dan strip till) tidak terukur.

Kata kunci:    tanah marginal, pupuk hijau, stabilitas aggregat, bahan organik tanah

PENDAHULUAN

Pemantapan aggregat tanah sangat penting untuk meningkatkan laju infiltrasi dalam usaha mengantisipasi terjadinya aliran air di permukaan tanah (runoff) yang menyebabkan terjadinya erosi.  Di samping itu, tanah dengan struktur yang ideal mempunyai kandungan air dan udara tanah yang seimbang.  Kondisi demikian akan mengoptimalkan kehidupan biologis tanah serta akan mengefisienkan atau memaksimalkan ketersediaan dan penyerapan hara oleh tanaman.  Aggregat yang mantap bisa diperoleh dengan bantuan bahan organik (BO) sebagai agen  pengikat butir tanah.

Aggregat tanah yang terjadi dengan bantuan agen pengikat BO akan lebih stabil, terutama bila terjadi pembasahan secara tiba-tiba.  Hal ini sangat dibutuhkan bagi tanah-tanah di daerah super basah seperti di Sumbar khususnya kota Padang.  Aggregat yang mantap mampu mempertahankan bentuk dan ukurannya ketika menerima pukulan butir hujan ataupun energi luar lainnya.  Oleh sebab itu, tanah dengan aggregat yang mantap akan mampu melewatkan air ke dalam profil tanah dan mengurangi aliran permukaan secara berkesinambungan.

Akan tetapi, tanah di daerah tropis super basah ini umumnya mempunyai kandungan BO yang rendah, karena tingginya laju dekomposisi BO akibat suhu dan curah hujan (CH) yang tinggi.  Di samping itu, BO juga akan mengalami dekomposisi dan mineralisasi dengan waktu dan managemen yang diberikan pada suatu lahan.  Laju perombakan BO akan semakin intensif bila BO tersebut terekpos ke udara bebas dan terjangkau oleh mikroba perombak seperti akibat pengolahan tanah.

Pengolahan tanah yang intensif umumnya dilakukan untuk pertanian tanaman semusim, khususnya serealia dan hortikultura di Sumatra Barat.  Petani menganggap bahwa persiapan lahan yang baik adalah dengan mengolah tanah sehalus dan segembur mungkin serta membuang semua sisa tanaman dari lahan dan membakarnya.  Mereka tidak mempedulikan cara pengolahan tanah yang tegak lurus  kontur dan tanpa teras atau pagar lorong pada tanah berlereng.  Pengembalian BO setelah panen ke lahan juga hampir tidak dilakukan, melainkan dibakar.  Lahan gembur akibat pengolahan memang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman awal, tetapi hanya dalam jangka pendek.  Dalam jangka panjang, pengolahan tanah yang intensif akan menyebabkan menipisnya cadangan BO tanah dalam waktu singkat, yang mengakibatkan degradasi lahan dan menurunnya kualitas tanah dan akhirnya lingkungan.

Laju kehilangan BO tanah di  Sumatra Barat, khususnya kota Padang yang menerima CH cukup tinggi, > 5000 mm/tahun (Rasyidin, 1994) seperti di daerah gunung Gadut dan sekitarnya, sangat cepat.  Lahan di daerah Limau Manis, kaki bagian bawah (lower footslope) G.Gadut yang berada pada ketinggian ± 250 m dpl ini di dominasi oleh tanah berordo Ultisol dengan morfologi berombak sampai berbukit.  Lahan ini sangat peka terhadap erosi, karena umumnya mempunyai kelas lereng > 15% (tidak disarankan lagi untuk tanaman semusim), namun masih diolah secara intensif oleh penduduk demi pemenuhan kebutuhan hidup mereka.  Tidak heran, kalau setiap hujan terlihat air sungai menjadi kuning akibat tanah tererosi dari ordo Ultisol.  Bahkan, bila hujan terjadi seharian telah menimbulkan banjir di kota Padang, walaupun tidak bertahan lama.

Dalam usaha mengantisipasi bencana alam yang lebih besar, khususnya di kota Padang, dan untuk mempertahankan produktifitas lahan secara berkelanjutan, maka perlu dilakukan usaha perbaikan sifat fisika tanah melalui peningkatan kandungan BO tanah.  Hal ini bisa dilakukan dengan pengurangan laju dekomposisi BO melalui pengurangan intensifitas pengolahan tanah serta dengan penambahan BO secara berkala.  Pengurangan intensitas pengolahan tanah berarti penguran frekuensi pelonggaran dan pemecahan aggregat tanah, sekaligus pengurangan aktifitas jasad renik  tanah.  Sedangkan pengurangan intensifitas pengolahan dimaksudkan untuk mengolah tanah seperlunya, cukup untuk menjamin pertumbuhan tanaman awal, atau dikenal pengolahan tanah minimum, seperti pengolahan dalam strip, tanpa pengolahan tanah, dan sebagainya.  Hal ini bukan saja dapat mengurangi oksidasi BO tanah, tetapi juga dapat mengurangi biaya tenaga kerja atau ongkos produksi.

Sumber BO yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu pupuk hijau.  Penggunaan jenis BO ini didasarkan karena pupuk hijau bisa diproduksi lansung atau ditanam disekitar lahan pertanaman, jadi  tidak memerlukan biaya transportasi untuk membawa ke areal pertanaman.  Di samping itu, pupuk hijau juga dapat tumbuh dan bertahan di lahan marginal.  Ada beberapa jenis pupuk hijau yang dapat tumbuh di lahan miskin hara dan selama ini sudah banyak digunakan untuk kontribusi haranya bagi pertumbuhan tanaman, seperti sesbania (Burhan et al., 1996), tithonia (Hakim et al., 2006; Gusnidar, 2007), krinyuh (Jamilah, 2006), dan banyak lagi yang lain.

Diharapkan hasil penelitian ini akan bermanfaat untuk mempertahankan produktifitas lahan secara berkelanjutan dan mengantisipasi terjadinya erosi dan bencana alam yang besar.  Erosi berdampak negatif bukan saja bagi  lahan yang tererosi itu sendiri tetapi juga merusak bagi daerah dibawahnya.  Erosi dari lahan pertanian sering menyebabkan pencemaran oleh tanah tersuspensi dan pupuk terlarut yang berakibat suburnya gulma air dan akhirnya menyebabkan pendangkalan sungai, menurunnya keragaman hayati, serta banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

BAHAN DAN METODA

Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian tahun I (2008) yang dimulai dengan identifikasi kandungan BO dan stabilitas aggregat serta beberapa sifat fisika tanah pada Ultisol Limau Manis Padang dan pada 3 daerah lainnya di Sumatra Barat (Lubuk Minturun, Kab. Agam dan Kab. Lima Puluh Kota).  Kemudian dilanjutkan dengan percobaan lapangan yaitu pemberian 3 jenis pupuk hijau pada Ultisol Limau Manis.  Pada tahun ke II ini hanya 2 dari 3 jenis pupuk hijau yang digunakan (Titonia diversifolia untuk tanaman jagung dan Gliricidia sepium untuk tanaman cabe)

Dua jenis pupuk hijau yang digunakan berasal dari tanaman yang ditanam pada tahun pertama seperti tithonia (diantara lereng pada lahan) dan gliricidia (disekeliling lahan percobaan sebagai pagar).  Khusus pada musim tanam (MT) ke IV percobaan yang sama juga dilakukan di daerah yang sudah di survai tahun I.

Setelah panen, sampel tanah utuh dan terganggu, serta sampel beraggregat utuh, untuk analisis BV, TRP, dan Permeabilitas, BO, serta stabilitas aggregate tanah dibawa ke laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.  Sampel tanah dikering-anginkan sampai kadar air <20%, lalu dihaluskan sesuai kebutuhan dan disimpan dalam kemasan tertutup setelah diberi label.  Analisis C-organik dengan metoda Walkley dan Black, BV dan TRP dengan metoda Gravimetri, serta stabilitas aggregat dengan ayakan kering dan basah. Hasil jagung dan cabe tertinggi dan sifat fisika tanah yang terbaik (khususnya stabilitas aggregat tanah) diadopsi dan akan disarankan kepada petani jagung dan cabe.

Panen tanaman rencananya dilakukan jika tanaman sudah mencapai masak    fisiologis yang ditandai dengan rambut jagung sudah mengering, klobot sudah mengering.  Buah cabe dipanen jika buah 50% buahnya sudah merah.  Dalam penelitian ini, cabe dipanen hanya satu kali, kemudian dibogkar dan ditanami lagi untuk MT berikutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 1.  Kandungan BO dan Stabilitas Aggregat Tanah Ultisol Limau Manis

Kandungan BO dan stabilitas aggregat tanah Ultisol Limau Manis setelah panen cabe dan jagung pada MT I, II, III ditampilkan pada Tabel 1.  Dari data yang diperoleh  terlihat bahwa ada peningkatan kandungan BO tanah dari plot pupuk hijau tithonia dan glircidia dibanding dengan plot yang tidak diberi pupuk hijau.  Hal ini disebabkan oleh karena bahan hijauan tanaman termasuk pada salah satu sumber BO tanah.  Akan tetapi, kandungan BO cendrung menurun dengan waktu dari MT I ke MT II dan ke MT III.  Hal ini disebabkan oleh terjadinya dekomposisi BO setelah ditambahkan ke dalam tanah.  Sesuai dengan yang dilaporkan oleh Yulnafatmawita (2006), bahwa terjadi penurunan kandungan BO tanah Ultisol secara signifikan dengan pengolahan tanah dari ekosistem hutan menjadi ekosistem tanaman semusim.

Akan tetapi, pada plot pertanaman jagung,  kandungan BO tanah pada MT II menurun kemudian cendrung meningkat lagi pada MT III.  Penurunan kandungan BO ini disebabkan oleh proses dekomposisi yang terjadi sepanjang waktu.  Pengolahan yang dilakukan setiap musim tanam juga membantu mempercepat terjadinya oksidasi BO, sehingga kandungan BO tanah menjadi lebih rendah dari sebelumnya.  Jika dibandingkan dengan BO tanah awal Ultisol di Limau Manis ini yang termasuk kriteria rendah yaitu ± 3.73% (Yulnafatmawita et al, 2008), maka penambahan BO sebanyak 20 t/ha pada MT I masih bersisa sampai MT III dengan ratarata 5.9, 5.8, dan 5.9% untuk MT I, MT II, dan MT III secara berturut-turut.

Sesuai dengan pola kandungan BO tanah, indeks stabilitas aggregat tanah pada MT II dan MT III juga cendrung menurun dari MT I dengan penurunan kandungan BO tanah.  Hal ini disebabkan oleh karena BO merupakan salah satu agen pengikat butir tanah atau sebagai agen pembentuk dan pemantap aggregat tanah.  Sesuai dengan laporan Yulnafatmawita (2006) bahwa ada korelasi positif antara kandungan BO dengan indeks stabilitas aggregat tanah.

Kandungan BO dan indeks stabilitas aggregat tanah berbeda tidak nyata pada berbagai lereng pada plot pertanaman baik plot cabe maupun plot jagung pada setiap musim tanam.   Penambahan  BO dalam bentuk bahan hijauan ke dalam tanah untuk tanaman semusim pada lahan datar sampai berlereng 25% masih memperlihatkan pengaruh yang relatif sama sampai 3 kali pertanaman.

Akan tetapi, jenis tanaman pupuk hijau memperlihatkan pengaruh yang berbeda terhadap kandungan BO dan stabilitas aggregat tanah baik pada plot pertanaman cabe maupun jagung.   Pupuk hijau tithonia meningkatkan BO lebih tinggi dibanding jenis lainya pada plot pertanaman cabe pada lereng kecil dari 15%, sedangkan pada lereng 25% (>15%) gliricidia meningkatkan kandungan BO tertinggi.

  1. 2.    Sifat Fisika Tanah Ultisol Limau Manis

Hasil analisis beberapa sifat fisika tanah Ultisol Limau Manis setelah diberi pupuk hijau pada MT I, MT II dan MT III ditampilkan pada Tabel 2.   Tiga sifat fisika Ultisol yang ditampilkan disini yaitu nilai bobot tanah persatuan volumenya (BV), nilai total ruang pori (TRP), dan nilai permeabilitas tanah.

Nilai BV tanah secara umum menurun dengan pemberian BO ke dalam tanah.  Hal ini disebabkan karena BO mampu merajut butir tunggal menjadi aggregat dan aggregat mikro menjadi aggregat makro yang mempunyai ruang antara aggregat tersebut.  Semakin besar aggregat yang terbentuk, ruang pori yang bersebelahan dengan aggregat juga semakin besar.  Di samping itu,  BO sendiri mempunyai bobot yang rendah persatuan volumenya, sehingga penambahan BO menurunkan nilai BV tanah dibanding nilai BV tanah awalnya.

Penurunan nilai BV tanah dengan pemberian BO ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Yulnafatmawita (2006) bahwa tanah hutan dengan kandungan BO yang tinggi mempunyai nilai BV yang lebih rendah dibanding tanah yang sudah diladangkan untuk tanaman semusim.  Akan tetapi, tidak terlihat perbedaan nilai BV tanah yang nyata antara tanah plot percobaan yang diberi dengan yang tidak diberi pupuk hijau.  Hal ini disebabkan karena pada penelitian ini tanah sama-sama diolah.  Pengolahan tanah dapat menggemburkan tanah, sehingga berat persatuan volume tanahnya menjadi rendah.

Penurunan nilai BV tanah dengan pemberian BO menyebabkan peningkatan nilai TRP tanah.  Hal ini disebabkan karena nilai BV berbanding terbalik dengan nilai TRP tanah.  Nilai BV yang rendah mengindikasikan bahwa tanah tersebut longgar, atau dengan kata lain, tanah tersebut mempunyai banyak ruang yang tidak diisi padatan.  Semakin banyak ruang, semakin rendah nilai BV tanah dan semakin tinggi nilai TRP tanah.

Nilai TRP tanah cendrung menurun dengan waktu.  Hal ini sejalan dengan peningkatan nilai BV tanah.  Penurunan nilai ini lebih tajam terlihat pada plot yang tidak diberi BO, karena aggregat tanah mudah hancur dan mengisi pori-pori tanah.  Sedangkan BO mampu mempertahankan aggregasi tanah dari energi input yang menghancurkan aggregat tanah, seperti energi kinetik curah hujan yang dominan di Limau Manis ini khususnya, dan di daerah tropis super basah Sumbar pada umumnya.  Pada plot pertanaman jagung, nilai TRP tanah cendrung rendah pada MT II, sedangkan pada plot pertanaman cabe, nilai TRP cendrung menurun dengan peningkatan kemiringan lahan (slope) pada MT III.  Sedangkan diantara pupuk hijau tidak terlihat adanya perbedaan TRP tanah yang nyata.

Nilai BV dan TRP tanah mempengaruhi laju pergerakan air dalam tanah pada kondisi jenuh atau dengan kata lain nilai permeabilitas tanah.  Peningkatan nilai total ruang pori tanah, terutama ruang pori makro, akan mampu melewatkan air dalam jumlah yang banyak per satuan waktu.  Oleh sebab itu, pemberian BO mampu menurunkan BV, meningkatkan TRP, dan akhirnya meningkatkan laju permeabilitas tanah.  Tanah dengan permeabilitas yang tinggi akan memberikan jumlah oksigen yang cukup bagi pernafasan akar tanaman dan juga bagi mikroba yang hidup di zona perakaran tersebut.  Di samping itu, yang lebih penting adalah rendahnya kemungkinan air mengalir di permukaan tanah (run off) yang sering menyebabkan tanah tererosi, karena air tidak bermasalah memasuki tanah.

Laju permeabilitas tanah cendrung menurun dengan waktu setelah pemberian BO, atau dari MT I ke MT III.  Penurunan ini berkaitan dengan penurunan nilai TRP tanah.  Penurunan nilai TRP tanah, terutama pori makro yang berkesinambungan sampai kelapisan bawah perakaran atau disebut juga pori geometri, akan menurunkan laju pergerakan air dari satu tempat ke tempat lain.  Karena air umumnya hanya akan melewati pori miro yang panjang perjalanannya dibanding jarak lurus (turtuosity) nya jauh lebih panjang.  Di samping itu, sebagian air yang lewat melalui pori mikro tersebut akan ditahan oleh matriks tanah, sehingga perjalannaya persatuan waktu sangat pendek, atau laju permeabilitasnya rendah.

  1. 3.    Produksi Cabe dan Jagung pada Ultisol Limau Manis

Produksi tanaman cabe dan jagung pada tanah Ultisol Limau Manis yang diberi pupuk hijau ditampilkan pada Tabel 3.   Produksi tanaman yang diamati disini yatu biomasa tanaman dan bobot segar buahnya, seperti tongkol berklobot bagi tanaman jagung dan buah segar bagi tanaman cabe.  Khusus jagung belum pernah dipanen sampai masak fisiologis, karena serangan hama.  Buah cabe yang bisa dipanen sampai 20 kali, hanya 1 kali panen saja, karena hatrus ditanami lagi musim berikutnya.

Produksi cabe dan jagung tidak dipengaruhi oleh variasi lereng sampai MT III.   Akan tetapi, produksi cabe (biomasa dan hasil) menurun dengan waktu.  Perubahan produksi cabe terlihat lebih tajam dibanding produksi jagung.  Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor pertumbuhan tanaman yang lain di luar faktor sifat fisika tanah.  Diantara pupuk hjau yang diaplikasikan, pupuk hijau gamal rata-ratya memberikan produksi cabe yang tertinggi.

Tidak sama denga cabe, produksi jagung cendrung naik dengan waktu dari MT I sampai MT III.  Diantara pupuk hijau, produksi tertinggi diperoleh dari plot tanaman yang diberi pupuk hijau tithonia.  Tingginya produksi jagung dengan tithonia mungkin disebabkan oleh kandungan unsur hara tithonia yang lebih baik dibanding pupuk hijau yang diaplikasikan lainnya.  Sesuai yang dilaporkan Hakim dan Agustian (2005) bahwa tithonia mengandung N mencapai 4% berdasarkan bobot keringnya.  Jagung merupakan tanaman palawija yang membutuhkan jumlah nitrogen yang banyak dalam pertumbuhannya.  Oleh sebab itu, jagung yang tumbuh pada plot yang diberi tithonia memberikan hasil yang lebih tinggi.

  1. 4.    Jumlah Tanah Tererosi dari Plot Konservasi dan Konvensional

Plot erosi hanya dilakukan untuk plot yang diberi tithonia untuk pertumbuhan tanaman jagung dan plot yang diberi Gliricidia untuk pertumbuhan tanaman cabe pada lereng 8-15% (12% dan >15%  (25%) bagi plot percobaan yang diolah intensif.  Plot percobaan pada lereng 0-8% (3%) tidak dilakukan pengukuran erosi, karena lahan ini dianggap datar, sehingga kemungkinan akan terjadinya aliran permukaan (run off) sangat kecil.  Jumlah tanah tererosi yang diukur pada Musim Tanam ke II baik dari plot dengan pengolahan tanah secara intensif maupun dari plot dengan pengolahan tanah secara konservasi  ditampilkan pada Tabel  4  berikut.

Tabel 4  Jumlah tanah tererosi pada plot percobaan yang diaplikasikan Tithonia

dan Gliricidia

Slope Pupuk Hijau BK Tanahg/plot BK Tanaht/ha BK Tanaht/ha/th
Plot Pengolahan Tanah Konvensional
8-15% Tithonia 124.80 0.31 0.93
Gliricidia 137.82 0.34 1.02
>15% Tithonia 155.15 0.39 1.17
Gliricidia 203.37 0.51 1.53
Plot Pengoalahan Tanah Konservasi
8-15% No-till tu*)
Strip-till tu
>15% No-till tu
Strip-till tu

Catatan: *) tu = tak terukur

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa jumlah tanah yang terbawa hanyutan air (tererosi) dari plot percobaan dengan pengolahan tanah konvensional selama 1 kali musim tanam (4 bulan) relatif rendah, bahkan lebih rendah dari erosi geologi atau erosi yang jumlah tanah hilang seimbang dengan tanah yang terbentuk yaitu ± 2 t/ha/th.  Hal ini bisa disebabkan oleh 2 hal, yaitu pengolahan tanah yang menyebabkan tanah menjadi gembur, pori makro meningkat, sehingga air hujan yang jatuh bisa masuk ke dalam tanah tanpa ada yang mengalir di permukaan tanah.

Selanjutnya, rendahnya tanah terserosi juga disebabkan oleh meningkatnya kandungan BO tanah setelah pemberian Tithonia dan Gliricidia.  Bahan organik berperan membentuk aggregat tanah, yang meningkatkan pori makro pada tanah berliat seperti Ultisol sehingga laju infiltrasi jadi meningkat.  Di samping itu, tanah yang terbentuk dengan agen pengikat BO aggregatnya menjadi mantap, tidak terpengaruh oleh pembasahan dan pengeringan yang tiba-tiba.  Tanah tetap mempertahankan aggregatnya sehingga laju masuknya air ke dalam tanah tidak terhalang dan aliran permukaan dapat diminimalkan.  Peningkatan kemantapan aggregat tanah dengan peningkatan kandungan BO tanah juga dilaporkan oleh Yulnafatmawita (2006) pada beberapa penggunaan lahan di Ultisol Limau Manis Padang.

Brdasarkan nilai yang ditampilkan pada Tabel 4 jumlah tanah tererosi pada plot cabe lebih besar dari plot jagung pada setiap lereng.  Hal ini sangat dimungkinkan oleh lebar kanopi atau penutupan lahan oleh tajuk tanaman.  Semakin luas dan rapat kanopi tanaman, maka semakin besar reduksi energi curah hujan yang diterima oleh tanah.  Energi kinetik curah hujan yang lansung mengenai tanah akan mampu menghancurkan aggregat menjadi butir halus dan bahkan terdispersi menjadi butir tunggal, sehingga pori tanah akan tersumbat dan mengakibatkan laju infiltrasi menurun.  Tanaman jagung yang ditanam lebih rapat dan mempunyai batang lebih tinggi mampu menutup tanah lebih luas dibanding tanaman cabe, sehingga kehilangan tanah dari plot jagung cendrung lebih rendah dibanding plot cabe.

Di samping canopi tanaman, relatif lebih banyak tanah tererosi pada plot cabe juga disebabkan oleh rendahnya stabilitas aggregat tanah yang diberi Gliricidia dari pada yang diberi  Tithonia setelah 4 bulan aplikasi.  Nilai indeks stabilitas tanah rata-rata pada plot yang diberi Tithonia hanya sedikit lebih tinggi dari plot yang diberi Gliricidia, tetapi pada lereng >15% telah membedakan kriteria, yaitu dari kurang stabil (plot Gliricidia) menjadi agak stabil (plot Tithonia).

Jumlah tanah tererosi pada masing-masing plot juga dipengaruhi oleh tingkat kecuraman lereng.  Tanah pada lereng > 15% cendrung menghanyutkan tanah lebih banyak dari tanah pada lereng 8-15% pada masing-masing tanaman.  Hal ini jelas dipengaruhi oleh tingkat sudut yang terbentuk antara butiran hujan dengan bidang atau permukaan lahan.  Semakin curam lereng maka semakin lancip sudut yang terbentuk, dan sehingga semakin besar kemungkinan air akan mengalir di permukaan tanah.  Di samping itu, energi air yang mengalir pada lahan dengan lereng yang lebih curam juga akan lebih besar karena tingginya kecepatan aliran.

Berdasarkan lampiran 12 terlihat bahwa curah hujan di daerah penelitian cukup tinggi, yaitu mencapai diatas 4000 mm per tahunnya.   Di daerah yang berdekatan, di kaki gunung Gadut bagian atas atau tepatnya di Bukit Pinang-Pinang, Rasyidin (1994) melaporkan bahwa CH di tempat tersebut mencapai 6500 mm per tahunnya.   Berdasarkan Smith dan Ferguson (1970), daerah ini termasuk ke dalam klassifikasi iklim Af, yaitu daerah dengan musim hujan > 9 bulan dengan bulan kering < 3 bulan.  Berdasarkan data iklimnya, tanah ini mempunyai potensi erosi yang cukup besar.   Tambahan lagi daerah ini terletak pada punggung atau kaki bukit, umumnya mempunyai topografi yang tidak datar, sehingga mempercepat laju runoff dan kehilangan tanah.

Jumlah tanah tererosi pada plot yang diolah konservasi dan tidak diberi pupuk hijau bisa dikatakan nihil atau tidak terukur.  Hal ini ditunjang oleh fungsi rumput diantara jalur penanaman yang mampu menghambat aliran permukaan.  Selanjutnya, akar-akar rumput yang ada juga mampu melewatkan air hujan yang jatuh lebih leluasa dibanding tanah tanpa rumput-rumputan.  Pada plot tanpa olah (no-till) tidak ada sedikitpun terjadi perpindahan tanah selama hujan terjadi, karena tanahnya tidak terekspos pada jatuhnya butir hujan.  Oleh sebab itu, untuk pencegahan erosi, pengolahan tanah secara minimum (konservasi) sangat dianjurkan.

Akan tetapi, penampilan pertumbuhan tanaman pada petak percobaan yang diolah secara konservasi pada Ultisol Limau Manis, baik itu yang diolah dalam strip ataupun yang tidak diolah sama sekali kurang memuaskan.  Hal ini disebabkan oleh tekstur tanah Ultisol dengan kandungan liat yang tinggi.  Tanah demikian bila tidak diolah menyebabkan akar tanaman susah berkembang,  seingga penyerapan unsure hara juga terbatas.

Tanah yang mengandung liat yang tinggi dibarengi dengan rendahnya kandungan BO tanah, biasanya mempunyai pori mikro yang banyak, dan kekurangan pori makro.  Pori makro adalah pori atau rongga yang ada dalam tanah yang pada kondisi normal akan diisi oleh udara.  Udara ini  menyediakan oksigen (O2) bagi pernafasan akar dan aktifitas mikroba perombak dalam tanah.  Pori makro tanah yang banyak juga membantu melancarkan sirkulasi udara tanah dan atmosfir luar, atau dikenal juga bahwa kondisi aerase tanah termasuk baik.

 VI.          KESIMPULAN DAN SARAN

 Dari hasil penelitian yang dilakukan melalui percobaan di lahan selama 4 kali musim tanam, maka dapat disimpulkan bahwa:

 Pemberian pupuk hijau sebagai sumber BO dapat meningkatkan kandungan BO tanah Ultisol dan stabilitas aggregat tanah dibandingkan tanah awal.  Akan tetapi, kandungan BO tanah cendrung menurun dari MT I sampai MT III yang diikuti pula oleh penurunan stabilitas aggregat tanah pada semua tingkat lereng untuk kedua jenis tanaman indikator, cabe dan jagung.

  1. Sifat fisika tanah, terutama nilai BV, TRP, dan permeabilitas tanah membaik dengan penambahan BO ke dalam tanah dibanding tanah awal.  Kemudian  kondisi fisik tanah cendrung menurun dengan waktu dari MT I sampai MT III, baik pada plot yang ditanami cabe maupun jagung pada ke 3 kelas lereng
  2. Produksi cabe cendrung menurun dengan waktu dari MT I sampai MT III, sebaliknya produksi jagung meningkat.  Kandungan BO, stabilitas aggregat, dan sifat fisika tanah yang terbaik serta produksi tanaman tertinggi untuk tanaman jagung diperoleh dari plot yang diaplikasi dengan titonia, dan cabe pada plot yang diberi gliricidia
  3. Produksi tanaman pada tiga daerah lainnya di Sumbar belum bisa ditampilkan karena belum panen.
  4. Jumlah tanah tererosi dari plot pengolahan tanah konvensional yang diberi pupuk hijau pada MT II cukup rendah atau < 2 t/ha/th (=erosi alam).  Sedangkan pada plot pengolahan tanah konservasi (strip dan no-till) tanpa pemberian BO tidak terjadi erosi.

Berdasarkan kesimpulan diatas, untuk menghindari erosi, degradasi lahan dan lingkungan, maka disarankan untuk melakukan pengolahan tanah konservasi bagi pertanian tanaman semusim (palawija, hortikultura) di daerah tropis super basah Sumbar, selama produksi tanaman dapat optimal.  Alternatif lain yaitu penambahan BO dalam bentuk pupuk hijau, khususnya titonia bagi pertumbuhan tanaman jagung dan gamal untuk tanaman cabe, yang  lahannya diolah secara konvensional.  Pemberian pupuk hijau ini sebagai sumber BO untuk memperbaiki sifat fisika tanah bisa dilakukan setiap 3 kali MT.

 DAFTAR PUSTAKA

 Burhan W., Yulnafatmawita, dan Hakim, N.  1996.  Seleksi tanaman pupuk hijau di lahan marginal berpasir Air Tawar Padang.  Prosiding Seminar BKS-PTN Barat 1997, Padang.

Gusnidar.  2007.  Pemanfaatan Tithonia diversifolia untuk menghemat pemupukan N,P, dan K tanaman padi sawah intensifikasi.   JurusanTanah Fakultas Pertanian Unand.  Padang.

Hakim, N. dan Agustian.  2005.  Pemanfaatan titonia sebagai sumber bahan organic dan unsur hara untuk tanaman jagung pada Ultisol.  Laporan Kemajuan Penelitian Tahun III Hibah Bersaing.  Proyek Peningkatan Penelitian Perguruan Tinggi DP3M Ditjen Dikti. Unand Padang.

Hakim, N. 2006.  Pengelolaan Kesuburan Tanah masam dengan Teknologi pengapuran Terpadu.  Andalas University Press.  Padang.

Hakim, N., Darfis, I., dan Arfania, L.  2007.  Efek sisa dan tambahan titonia terhadap sifat kimia Ultisols dan hasil tanaman jagung pada musim tanam ke tiga.  Laporan Hibah Penelitian SP-4 Jurusan Tanah Fak. Pertanian Unand Padang.

Jamilah.  2006.  Potensi gulma C.odorata sebagai pupuk dibandingkan G.sepium alternatif yang diberi CMA pada lahan marginal.  Disertase Doctor Facultas Pasca Sarjana Universitas Andalas Padang.

Rasyidin, A 1994.  The method for measuring rates of weathering and rates of soil formation in watershed.  Disertase.  Tottory Univ. Japan, 110 p.

Yulnafatmawita.  2006.  Hubungn antara status C-organik tanah dan stabilitas aggregate Ultisol Limau Manis akibat perubahan penggunaan lahan.   Prosiding Seminar BKS Barat di Jambi 26-28 April

Yulnafatmawita, Saidi, A., dan Gusnidar.  2008.Upaya perbaikan stabilitas aggregat tanah melalui peningkatan karbon organik pada lahan marginal di daerah tropis super basah Sumatra Barat.  Laporan Penelitian HIBER Tahun I (2008).  DP3M Dirjen Dikti.

Kasih Comentnya Dong ...!!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s