Pengolahan Tanah Konservasi

Posted: October 17, 2012 in TULISAN

Pengolahan tanah dapat diartikan sebagai kegiatan manipulasi mekanik terhadap tanah. Tujuannya adalah untuk mencampur dan menggemburkan tanah, mengontrol tanaman pengganggu, dan menciptakan kondisi kegemburan tanah yang baik untuk pertumbuhan akar tanaman. Sedangkan pengolahan tanah secara konvesional  yang biasa dilakukan oeh masyarakat adalah sistem pengolahan tanah yang melakukan penggarapan tanah secara maksimal, membalik-balikkan tanah hingga kedalaman + 20 cm, serta tanpa adanya pemanfaatan residu tanaman dan gulma sebagai tutupan lahan yang melindungi tanah dari erosi dan tingginya aliran permukaan tanah. Pengolahan tanah seperti ini ditujukan untuk mendapatkan kondisi tanah yang baik yang mendukung pertumbuhan akar tanaman, sehingga diperoleh hasil produksi yang diinginkan. Namun tanpa disadari dalam jangka  panjang pengolahan tanah seperi ini akan menurunkan kualitas tanah, seperti hilangnya bahan organik tanah, degradasi tanah, dan penurunan produktivitas lahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu sistem pengolahan tanah yang dapat mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitas suatu lahan. Sistem pengolahan tanah yang dapat diterapkan adalah sistem pengolahan tanah konservasi (Sinukaban, 1990).

Selanjutnya Sinukaban (1990), juga menjelaskan  bahwa pengolahan tanah konservasi (conservation tillage) adalah setiap cara pengolahan tanah yang bertujuan untuk mengurangi besarnya erosi, aliran permukaan, dan dapat mempertahankan atau meningkatkan produksi. Untuk memenuhi kriteria tersebut, pengolahan tanah harus dapat menghasilkan permukaan tanah yang kasar sehingga simpanan aerasi dan infiltrasi meningkat, serta dapat menghasilkan sisa-sisa tanaman dan gulma pada permukaan tanah agar dapat menekan energi butir hujan yang jatuh.

Sedangkan Utomo (1995), mendefinisikan pengolahan tanah konservasi sebagai suatu pengolahan tanah yang bertujuan untuk menyiapkan lahan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi optimum, namun tetap memperhatikan aspek konservasi tanah dan air.  Pengolahan tanah seperti ini dicirikan oeh berkurangnya pembongkaran/pembalikan tanah, penggunaan sisa tanaman sebagai mulsa, dan kadang-kadang disertai dengan penggunaan herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma atau tanaman pengganggu lainnya. Utomo (1995), juga menambahkan  bahwa kelebihan dari penerapan sistem pengolahan tanah seperti ini dalam penyiapan lahan adalah sebagai berikut : 1) menghemat tenaga dan waktu, 2) meningkatkan kandungan BO tanah, 3) meningkatkan ketersediaan air di dalam tanah, 4) memperbaiki kegemburan dan meningkatkan porositas tanah, 5) mengurangi erosi tanah, 6) memperbaiki kualitas air, 7) meningkatkan kandungan fauna tanah, 8)  mengurangi penggunaan alsintan seperti traktor, 9) menghematpenggunaan bahan bakar dan memperbaiki kualitas udara.

Menurut Suwardjo et al. (1989), olah tanah konservasi merupakan alternatif penyiapan lahan yang dilaporkan dapat mempertahankan produktivitas tanah tetap tinggi. Beberapa cara pengolahan tanah yang memenuhi kriteria sebagai olah tanah konservasi diantaranya adalah tanpa olah tanah (zero tillage), olah tanah seperlunya (reduced tillage), dan olah tanah strip (strip tillage). Hal yang menentukan keberhasilan olah tanah konservasi adalah pemberian bahan organik dalam bentuk mulsa yang cukup (Rachman et al., 2004). Dimana mulsa dapat menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi laju pemadatan tanah.

Cara yang dimaksud adalah :

  1. Tanpa olah tanah (TOT), tanah yang akan ditanami tidak diolah dan sisa-sisa tanaman sebelumnya dibiarkan tersebar di permukaan, yang akan melindungi tanah dari ancaman erosi selama masa yang sangat rawan yaitu pada saat pertumbuhan awal tanaman. Penanaman dilakukan dengan tugal. Gulma diberantas dengan menggunakan herbisida
  2. Pengolahan tanah minimal (Minimum Tillage), tidak semua permukaan tanah diolah, hanya barisan tanaman saja yang diolah dan sebagian sisa-sisa tanaman dibiarkan pada permukaan tanah
  3. Pengolahan tanah menurut kontur, pengolahan tanah dilakukan memotong lereng sehingga terbentuk jalur-jalur tumpukan tanah dan alur yang menurut kontur atau melintang lereng. Pengolahan tanah menurut kontur akan lebih efektif jika diikuti, dengan penanaman menurut kontur juga yang memungkinkan penyerapan air dan menghindarkan pengangkutan tanah.

Manfaat Pengolahan Tanah Secara Konservasi

 Mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan aliran pemukaan.

  1. Mengamankan dan memelihara produktifitas tanah agar tercapai produksi yang setinggi tingginya dalam waktu yang tidak terbatas.
  2. Meningkatkan produksi lahan usahatani.
  3. Menghemat biaya pengolahan tanah, waktu dan tenaga kerja.

Pada pertanian lahan kering dengan jenis tanah podsolik yang lapisan olahnya tipis dan peka akan erosi, bahan organik sangat berperan untuk meningkatkan kesuburan dan produktifitas lahan. Hilangnya bahan organik, antara lain karena pengolahan tanah yang terlalu sering, tanah menjadi terbuka sehingga terjadi kenaikan suhu yang mempercepat hilangnya unsur hara dalam tanah. Pada tanah yang tidak diolah biasanya akar tanaman hanya mampu menembus sampai kedalaman 30 – 40 cm. Untuk mengatasi hal itu maka diperlukan pengolahan tanah seperlunya saja yaitu disekitar lobang tanaman diikuti dengan pemberian mulsa.

Beberapa Cara Pengolahan Tanah Minimum

 1.     Pengolahan tanah disekitar lobang tanaman.

Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari rumput-rumput baik secara mekanis maupun secara kimia dengan menggunakan Herbisida Glyposate selanjutnya tanah ditutupi mulsa dan sekitar lobang tanaman tanah diolah seperlunya.

2.      Pengolahan tanah di sekitar tanaman.

Pembersihan Iahan dari rumput-rumputan dan pemberian mulsa sama dengan cara di atas sedang pengolahan tanah dilakukan dalam jalur tempat tumbuh tanaman

3.      Tanpa pengolahan tanah (Zero Tillage).

Dalam keadaan struktur dan porositas tanah masih baik maka pengolahan tanah beIum diperlukan.

Pemberian Mulsa

Mulsa adalah sisa-sisa tanaman (serasah) yang susah lapuk. Penggunaan mulsa ini bermanfaat sebagai pengendali gulma, meningkatkan aktivitas organisme tanah, mengurangi penguapan air tanah dan dapat menambah bahan organik setelah mulsa tersebut mulai lapuk. Cara pemberiannya dengan menghempaskan mulsa tersebut di atas permukaan lahan secara merata dengan tebal 3 – 5 cm sebanyak 5 ton/Ha.

Kasih Comentnya Dong ...!!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s