Pengendalian Patogen Dengan Konsep PHT

Posted: February 23, 2012 in TULISAN

  1. PENDAHULUAN

Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman.

Gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan mengganggu proses – proses dalam tubuh tumbuhan sehingga mematikan tumbuhan. Oleh karena itu, tumbuhan yang terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya utuh. Akan tetapi, aktivitas hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian. Untuk membasmi hama dan penyakit, sering kali manusia menggunakan obat – obatan anti hama. Pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga disebut insektisida. Adapun pestisida yang digunakan untuk membasmi jamur disebut fungsida.

Pembasmi hama dan penyakit menggunakan pestisida dan obat harus secara hati – hati dan tepat guna. Pengunaan pertisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat menimbulkan bahaya yang lebih besat. Hal itu disebabkan karena pestisida dapat menimbulkan kekebalan pada hama dan penyakit. Oleh karena itu pengguna obat – obatan anti hama dan penyakit hendaknya diusahakan seminimal dan sebijak mungkin.

Kasus dilapangan,penggunaan pestisida yang paling sering digunakan petani di lapangan. Bahkan biasanya, diaplikasikan secara berjadwal. Penggunaan pestisida hampir menjadi satu-satunya cara pengendalian karena pestisida bekerja sangat efektif, praktis serta cepat membunuh patogen dan hama.

Pengendalian terpadu penyakit tanaman memerlukan informasi mengenai hubungan antara kerusakan tanaman dan kehilangan hasil; sampling kerusakan tanaman; analisis keragaman agroekosistem; serta analisis biaya manfaat pengendalian hama. Hal tersebut dibutuhkan untuk pengimplementasian konsep ambang ekonomi yang merupakan salah satu model pembuatan keputusan dalam PHT khususnya dalam penggunaan pestisida.

PHT (Pengelolaan Hama Terpadu) secara konsep adalah suatu cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian hama dan penyakit tumbuhan yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.

Strategi pengendalian penyakit yang didasarkan pada konsep PHT harus memiliki kelayakan ekologi dan ekonomi. Kelayakan ekologi menuntut persyaratan agar teknologi yang dikembangkan tidak berdampak negatif pada lingkungan/kesehatan. Sedangkan kelayakan ekonomi mengandung arti bahwa teknologi pengendalian harus dapat mengurangi resiko kehilangan hasil dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Oleh karena itu, teknologi tersebut harus efisien dibanding cara konvensional.

II. ORGANISME PENYEBAB PENYAKIT DAN PENGENDALIANNYA

A.Penyakit Tumbuhan

Jenis – jenis penyakit yang menyerang tumbuhan sangat banyak jumlahnya. Penyakit yang menyerang tumbuhan banyak disebabkan oleh mikroorganisme, misalnya jamur, bakteri, dan alga. Penyakit tumbuhan juga dapat disebabkan oleh virus.

1. Jamur

Jamur adalah salah satu organisme penyebab penyakit yang menyerang hampir semua bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyebaran jenis penyakit ini dapat disebabkan oleh angin, air, serangga, atau sentuhan tangan. Penyakit ini menyebabkan bagian tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika menyerang bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercak – bercak kecokelatan. Dari bercak – bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga pada akhirnya kering dan rontok.

Jika jamur ini mengganggu proses fotosintesis karena menutupi permukaan daun. Batang yang terserang umumnya akan membusuk, mula – mula dari arah kulit kemudian menjalar ke dalam, dan kemudian membusukkan jaringan kayu. Jaringan yang terserang akan mengeluarkan getah atau cairan. Jika kondisi ini dibiarkan, jaringan kayu akan membusuk, kemudian seluruh dahan yang ada di atasnya akan layu dan mati. Contoh penyakit yang disebabkan oleh jamur adalah sebagai berikut.

  1. Penyakit pada padi.
  2. Penyakit embun tepung.

 

2. Bakteri

Bakteri dapat membusukkan daun, batang, dan akar tumbuhan. Bagian tumbuh tumbuhan yang diserang bakteri akan mengeluarkan lendir keruh, baunya sangat menusuk, dan lengket jika disentuh. Setelah membusuk, lama – kelamaan tumbuhan akan mati. Tumbuhan yang diserang bakteri dapat diatasi dengan menggunakan bakterisida.

Contoh penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit yang menyerang pembuluh tapis batang jeruk (citrus vein phloem degeneration atau CVPD). CVPD disebabken oleh bakteri Serratia marcescens. Gejalanya adalah kuncup daun menjadi kecil dan berwarna kuning, buah menjadi kuning, sehingga lama – kelamaan akan mati. Penyakit CVPD yang belum parang dapat disembuhkan dengan terramycin, yang merupakan sejenis antibiotik.

 

 

3. Virus

Selain bakteri dan jamur, dalam kondisi yang sehat, tumbuhan dapat terserang oleh virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus cukup berbahaya karena dapat menular dan menyebar ke seluruh tumbuhan dengan cepat. Tumbuhan yang sudah terlanjur diserang sulit untuk disembuhkan. Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain penyakit daun tembakau yang berbercak – bercak putis. Penyakit ini disebabkan oleh virus TMV (tabacco mosaic virus) yang menyerang permukaan atas daun tembakau. Virus juga dapat menyerang jeruk. Penularan melalui perantara serangga.

 

 

B. Pengendalian

Secara umum, tindakan pengendalian OPT (dalam hal ini adalah patogen) dapat dikelompokkan menjadi beberapa cara, yaitu :

  • Secara fisik
  • Secara mekanik
  • Secara biologi
  • Secara agen hayati
  • Secara kimia
  • Sistem perundang-undangan.
  1. Pengendalian Secara Fisik

        Merupakan usaha dalam menggunakan atau mengubah faktor lingkungan fisik sehingga dapat menurunkan populasi hama dan penyakit. Akan tetapi, secara umum pengendalian secara fisik ini biasanya dilakukan untuk mengatasi serangan hama.

    Tindakan dalam pengendalian secara fisik antara lain:

    1. Pemanasan
    2. Pendinginan
    3. Radiasi sinar infra merah
    4. Pembakaran
    5. Pembasahan
    6. Lampu perangkap
    7. Gelombang suara

    Pada Umumnya pengendalian mikroba atau mikroorganisme secara fisik dapat dilakukan dengan cara panas adalah mudah, murah, dipercaya. Panas akan mendanutarasi protein mikroba sehingga efeknya membunuh habis. Cara pemanasan adalah kering dan basah.

    Pemanasan basah :

    1. Otoklaf, pemanasan disertai tekanan

    2. Merebus, termudah dan termurah. Waktu yang dianjurkan adalah 15 menit sesudah air mendidih. Tetapi spora dan kebanyakan virus bisa bertahan berjam jam dengan cara ini.

    3.  Pasteurisasi : Mula mula digunakan terhadap anggur, sekarang untuk susu. Suhu yang dipakai adalah 65°C dan waktu 30 menit. Bakteri mati, susu dan anggur tidak rusak.

     Pemanasan kering

    1. Pembakaran, 100% efektif.

    2. Memakai udara panas.

    Cara lain sterilisasi fisik adalah radiasi ultra ungu, penyaringan, kemoterapi dan antibiotik.

 

  1. Pengendalian Secara Mekanik

        Perlakuan atau tindakan yang bertujuan untuk mematikan atau memindahkan OPT secara langsung, baik dengan tangan atau dengan bantuan alat dan bahan lainnya. Misalnya pengambilan dengan tangan, penggunaan perangkap, dan geropiokan, pembuatan barier/pemisah serta mematikan dengan alat seperti senjata api, parang, dan senjata lainnya. Pengendalian secara mekanik ini kebanyakan dilakukan para petani untuk mengatasi hama. jika tanaman terserang penyakit yang disebabkan oleh patogen yang dapat dilakukan secra mekanik adalah mencabut atau memisahkan tanaman yang terserang dan memusnahkannya. Tetapi kita tidak bisa secara spesifik mengambil atau memusnahkan secara langsung patogen tersebut.

     

  2. Pengendalian Secara Biologi

        Pada umumnya pengendalian organisme penyebab penyakit secara biologi adalah pengendalian dengan menggunakan bahan-bahan nabati atau tumbuhan. Kebanyakan pestisida nabati merupakan salah satu cara pengendalian bakteri secara biologi. Contohnya Pemanfaatan pestisida nabati sebagai pengendalian alternatif penyakit layu bakteri nilam .

     

  3. Pengendalian Menggunakan Agen Hayati

    Pemanfaatan agens hayati (APH) untuk mengendalikan patogen masih populer dan memberikan harapan, baik di dalam negeri maupun manca negara. Di antara kelompok agens hayati, Pseudomonas fluorescens dan Trichoderma spp. menempati urutan teratas; paling banyak digunakan atau diteliti.

    Pengertian agens hayati menurut FAO (1988) adalah mikroorganisme, baik yang terjadi secara alami seperti bakteri, cendawan, virus dan protozoa, maupun hasil rekayasa genetik (genetically modified microorganisms) yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pengertian ini hanya mencakup mikroorganisme, padahal agens hayati tidak hanya meliputi mikroorganisme, tetapi juga organisme yang ukurannya lebih besar dan dapat dilihat secara kasat mata seperti predator atau parasitoid untuk membunuh serangga. Dengan demikian, pengertian agens hayati perlu dilengkapi dengan kriteria menurut FAO (1997), yaitu organisme yang dapat berkembang biak sendiri seperti parasitoid, predator, parasit, artropoda pemakan tumbuhan, dan patogen.

    Penggunaan APH dalam pengendalian OPT mempunyai beberapa keunggulan antara lain:

    1) tidak berdampak negatif terhadap lingkungan,

    2) tidak memusnahkan musuh alami bagi OPT tertentu,

    3) mencegah timbulnya ledakan OPT sekunder,

    4) produk bebas residu pestisida sehingga mutu akan lebih baik,

    5) tidak mengganggu kesehatan manusia,

    6) terdapat disekitar areal pertanaman sehingga mencegah ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis, dan

    7) dapat menurunkan biaya produksi, karena aplikasi dapat dilakukan sekali dalam 1 musim tanam (Margiono, 2002 dalam Tombe, 2002).

    Pengendalian hayati termasuk dalam komponen Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT) yang salah satunya dapat dilakukan dengan memanfaatkan bakteri antagonis. Berbagai penelitian tentang bakteri antagonis membuktikan bahwa beberapa jenis bakteri potensial digunakan sebagai agens hayati. Bakteri antagonis tersebut selain dapat menghasilkan antibiotik dan siderofor, juga dapat berperan sebagai kompetitor terhadap unsur hara bagi patogen tanaman. Pemanfaatan bakteri antagonis dimasa depan akan menjadi salah satu pilihan bijak dalam usaha meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjaga kelestarian hayati untuk menunjang budidaya pertanian berkelanjutan (Hasanuddin, 2003).

     

  4. Pengendalian Secara Kimia

        Pengendalian secara kimiawi dengan pestisida selektif yaitu cara pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan racun kimia (pestisida). Untuk mengendalikan bakteri maka pestisida yang diapakai adalah bakterisida,untuk jamur diistilahkan dengan fungisida. Sedangkan untuk virus tindakan secara kimiawi ini jarang dilakukan mengingat kerusakan ynag ditimbulkan virus ini adalah bersifat sistemik. Sebagai contoh pengendalian penyakit layu bakteri secara kimiawi dengan antibiotik Agrep dapat menekan perkembangan penyakit sampai 67% terutama karena kontaminasi berkurang.

        Penggunaan pestisida kimia merupakan usaha pengendalian yang kurang bijaksana, jika tidak dikuti dengan tepat penggunaan, tepat dosis, tepat waktu, tepat sasaran, tepat jenis dan tepat konsentrasi. Keadaan ini yang sering dinyatakan sebagai penyebabkan peledakan populasi suatu hama . Karena itu penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama dan patogen perlu dipertimbangkan, dengan memperhatikan tingkat serangan, ambang ekonomi, pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia dan hewan.

  5. Pengendalian Berdasarkan Undang-Undang

    Pengendalian dengan peraturan, yaitu pengendalian OPT dengan cara mencegah perpindahan OPT tertentu dari daerah terserang ke daerah belum terserang.

    Pengendalian dengan peraturan ini telah memiliki dasar hukum yang kuat dan prospektif, yakni:

  1. UU No 16 Th 1992: Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan
  2. PP No 6 Th 1995: Perlindungan Tanaman
  3. PP No 14 Th 2000: Karantina Tumbuhan

    Misal, pelarangan pengiriman benih kentang dari Batu Malang Jatim ke daerah lain yang belum terserang Nematoda Sista Kentang Globodera rostochiensis.

Sumber :

http://rhee7.wordpress.com/2009/04/05/hama-dan-penyakit-pada-tumbuhan/

http://yuan.blog.uns.ac.id/2010/11/04/pertanian-kini-pertanian-dengan-konsep-pht/

http://tora-leucopsar.blogspot.com/2010/03/pengendalian-hama-dan-penyakit.html

http://aditmahatva.wordpress.com/2010/03/25/konsep-pengendalian-opt/


 

Kasih Comentnya Dong ...!!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s