Pembentukan Dan Klasifikasi Gambut

Posted: February 23, 2012 in TULISAN

Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik

(C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik penyusun

tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna

karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Oleh karenanya lahan gambut

banyak dijumpai di daerah rawa belakang (back swamp) atau daerah cekungan yang

drainasenya buruk.

2.1. Pembentukan gambut

Gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik

yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses

dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya

yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai. Pembentukan

tanah gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah yang

disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi, berbeda dengan proses

pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan proses pedogenik

(Hardjowigeno, 1986).

Pembentukan gambut diduga terjadi antara 10.000-5.000 tahun yang lalu

(pada periode Holosin) dan gambut di Indonesia terjadi antara 6.800-4.200 tahun

yang lalu (Andriesse, 1994). Gambut di Serawak yang berada di dasar kubah

terbentuk 4.300 tahun yang lalu (Tie and Esterle, 1991), sedangkan gambut di Muara

Kaman Kalimantan Timur umurnya antara 3.850 sampai 4.400 tahun (Diemont and

Pons, 1991). Siefermann et al. (1988) menunjukkan bahwa berdasarkan carbon

dating (penelusuran umur gambut menggunakan teknik radio isotop) umur gambut di

Kalimantan Tengah lebih tua lagi yaitu 6.230 tahun pada kedalaman 100 cm sampai

8.260 tahun pada kedalaman 5 m. Dari salah satu lokasi di Kalimantan Tengah,

Page et al. (2002) menampilkan sebaran umur gambut sekitar 140 tahun pada

kedalaman 0-100 cm, 500-5.400 tahun pada kedalaman 100-200 cm, 5.400-7.900

tahun pada kedalaman 200-300 cm, 7.900-9.400 tahun pada kedalaman 300-400

cm, 9.400-13.000 tahun pada kedalaman 400-800 cm dan 13.000-26.000 tahun

pada kedalaman 800-1.000 cm.

Dari gambaran tersebut dapat dipahami bahwa pembentukan gambut

memerlukan waktu yang sangat panjang. Gambut tumbuh dengan kecepatan antara

0-3 mm tahun-1. Di Barambai Delta Pulau Petak, Kalimantan Selatan laju

pertumbuhan gambut sekitar 0,05 mm dalam satu tahun, sedangkan di Pontianak

sekitar 0,13 mm tahun-1. Di Sarawak Malaysia, laju pertumbuhan berjalan lebih cepat

yaitu sekitar 0,22 –0,48 mm per tahun (Noor, 2001 dari berbagai sumber).

Proses pembentukan gambut dimulai dari adanya danau dangkal yang

secara perlahan ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah. Tanaman

yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi

lapisan transisi antara lapisan gambut dengan substratum (lapisan di bawahnya)

berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah

dari danau dangkal ini dan secara membentuk lapisan-lapisan gambut sehingga

danau tersebut menjadi penuh (Gambar 1a dan 1b).

Bagian gambut yang tumbuh mengisi danau dangkal tersebut disebut

dengan gambut topogen karena proses pembentukannya disebabkan oleh topografi

daerah cekungan. Gambut topogen biasanya relatif subur (eutrofik) karena adanya

pengaruh tanah mineral. Bahkan pada waktu tertentu, misalnya jika ada banjir besar,

terjadi pengkayaan mineral yang menambah kesuburan gambut tersebut.

Tanaman tertentu masih dapat tumbuh subur di atas gambut topogen. Hasil

pelapukannya membentuk lapisan gambut baru yang lama kelamaan memberntuk

kubah (dome) gambut yang permukaannya cembung (Gambar 1c). Gambut yang

tumbuh di atas gambut topogen dikenal dengan gambut ombrogen, yang

pembentukannya ditentukan oleh air hujan. Gambut ombrogen lebih rendah

kesuburannya dibandingkan dengan gambut topogen karena hampir tidak ada

pengkayaan mineral.

2.2. Klasifikasi gambut

Secara umum dalam klasifikasi tanah, tanah gambut dikenal sebagai

Organosol atau Histosols yaitu tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan

berat jenis (BD) dalam keadaan lembab < 0,1 g cm-3 dengan tebal > 60 cm atau

lapisan organik dengan BD > 0,1 g cm-3 dengan tebal > 40 cm (Soil Survey Staff,

2003).

Gambut diklasifikasikan lagi berdasarkan berbagai sudut pandang yang

berbeda; dari tingkat kematangan, kedalaman, kesuburan dan posisi

pembentukannya. Berdasarkan tingkat kematangannya, gambut dibedakan menjadi:

• Gambut saprik (matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan

bahan asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila

diremas kandungan seratnya < 15%.

• Gambut hemik (setengah matang) (Gambar 2, bawah) adalah gambut

setengah lapuk, sebagian bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarma

coklat, dan bila diremas bahan seratnya 15 – 75%.

• Gambut fibrik (mentah) (Gambar 2, atas) adalah gambut yang belum

melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila

diremas >75% seratnya masih tersisa.


Gambar 1a


Gambar 1b


Gambar 1c

Gambar 1. Proses pembentukan gambut di daerah cekungan lahan basah: a.

Pengisian danau dangkal oleh vegetasi lahan basah, b. Pembentukan

gambut topogen, dan c. pembentukan gambut ombrogen di atas gambut

topogen (Noor, 2001 mengutip van de Meene, 1982).

Berdasarkan tingkat kesuburannya, gambut dibedakan menjadi:

• gambut eutrofik adalah gambut yang subur yang kaya akan bahan

mineral dan basa-basa serta unsur hara lainnya. Gambut yang relatif

subur biasanya adalah gambut yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen

sungai atau laut.

• mesotrofik adalah gambut yang agak subur karena memiliki kandungan

mineral dan basa-basa sedang

• gambut oligotrofik adalah gambut yang tidak subur karena miskin mineral

dan basa-basa. Bagian kubah gambut dan gambut tebal yang jauh dari

pengaruh lumpur sungai biasanya tergolong gambut oligotrofik

Gambut di Indonesia sebagian besar tergolong gambut mesotrofik dan oligotrofik

(Radjagukguk, 1997). Gambut eutrofik di Indonesia hanya sedikit dan umumnya

tersebar di daerah pantai dan di sepanjang jalur aliran sungai.

Tingkat kesuburan gambut ditentukan oleh kandungan bahan mineral dan

basa-basa, bahan substratum/dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut. Gambut

di Sumatra relatif lebih subur dibandingkan dengan gambut di Kalimantan.

Berdasarkan lingkungan pembentukannya, gambut dibedakan atas:

• gambut ombrogen yaitu gambut yang terbentuk pada lingkungan yang

hanya dipengaruhi oleh air hujan

• gambut topogen yaitu gambut yang terbentuk di lingkungan yang

mendapat pengayaan air pasang. Dengan demikian gambut topogen

akan lebih kaya mineral dan lebih subur dibandingkan dengan gambut

ombrogen.

Berdasarkan kedalamannya gambut dibedakan menjadi:

• gambut dangkal (50 – 100 cm),

• gambut sedang (100 – 200 cm),

• gambut dalam (200 – 300 cm), dan

• gambut sangat dalam (> 300 cm)

Berdasarkan proses dan lokasi pembentukannya, gambut dibagi menjadi:

• gambut pantai adalah gambut yang terbentuk dekat pantai laut dan

mendapat pengayaan mineral dari air laut

• gambut pedalaman adalah gambut yang terbentuk di daerah yang

tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut tetapi hanya oleh air

hujan

• gambut transisi adalah gambut yang terbentuk di antara kedua

wilayah tersebut, yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh air

pasang laut.



Gambar 2. Contoh tanah gambut yang diambil menggunakan bor gambut (peat

sampler). Gambar atas memperlihatkan contoh gambut fibrik (mentah)

dan gambar bawah contoh gambut hemik (setengah matang).

Sumber : Agus, Fahmuddin & I.G. Made Subiksa. 2008. Lahan Gambut : Potensi Untuk

Pertanian dan Aspek Lingkungan. Bogor : Balai Penelitian Tanah, Badan Penelitian

dan Perngembangan Pertanian.

Comments
  1. Dalton malik says:

    Tulisan2 dari Universitas Andalas ini sangat menarik, kenapa pemerintah kurang mendukung ?
    Apalagi saat ini terjadi kebakaran hutan/lahan sangat mengganggu, padahal karakteristik gambut sudah anda dan kawan2 ketahui
    Sebagai anak bangsa yg masih muda berbuatlah agar masyarakat mendapat manfaatnya.

Kasih Comentnya Dong ...!!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s